Thursday, April 1, 2010

Mau Yang Lembut Atau Yang Keras?

Tampaknya hari ini hari yang sangat melelahkan, kenapa begitu? Ya karena hari ini diawali dengan suatu hal yang menurut saya kurang enak di hati. Awal hari yang membuat jantung berdegup kencang. Bukan… bukan berdegup karena kehadirannya. Tapi berdegup kencang karena komentar-komentar yang sejak sehari sebelumnya saya sudah sangka akan datang.

Gila memang. Atau tidak gila. Hanya perasaan saya saja. Yang pasti tadi ketika saya baru memasuki ruangan kantor, sang bos sudah memanggil. Lalu kemudian masuk lah saya ke ruangan bos besar. Apa yang saya sangka akan terjadi, benar terjadi.

Mungkin ada baiknya bila saya menceritakan kejadian semalam sebelum acara gegap gempita di pagi hari datang. Malam sebelumnya, saya dan seorang rekan, kerja lembur hingga malam menuju pagi. Di malam itu saya sendiri mengaku kehilangan arah kepada rekan saya itu. Setelah dia mendengar pengakuan saya, dia hentikan sejenak pekerjaannya untuk mengganti status di situs pertemanan.

Dari situ saya sudah sulit sekali untuk berpikir. Kalau boleh saya mencari alasan layaknya judul lagu band Malaysia “Mencari Alasan”, maka alasan yang saya utarakan adalah pikiran saya sudah tersita semenjak datang sebuah pekerjaan yang tiba-tiba. Karena itu pulalah pekerjaan yang mestinya bisa saya diskusikan dulu dengan bos saya jadi tidak dapat terlaksana.

Saya, di malam itu, hanya bisa diam dan memikirkan sedikit demi sedikit kata. Keluar sih keluar itu kata-kata, tapi ya saya sendiri merasa kurang yakin dengan kata-kata yang saya lontarkan. Saya pun sudah pasrah, akan apa yang dapat terjadi besok.

Nah di keesokan harinya ini, seperti yang saya tadi tuliskan. Kritikan yang sudah saya kira benar terlempar ke muka saya. Malah bukan ke muka saya saja, juga ke muka bos saya. Malu beribu malu. Perasaan itu pun lalu campur aduk dengan perasaan rendah diri dan tidak percaya terhadap diri sendiri.

“Gila! Mo jadi apa nih gua? Kaya gini aja kok susah?”

Wah pokoknya itu yang namanya jantung bergetar seperti seseorang yang sedang lari marathon 18 KM. Sadis ya? Tapi tidak apa-apa. Itulah hidup.

Kadang saya suka tidak bisa terima dengan hal itu. Kadang pula saya sangat bersyukur saya mendapatkan hal-hal semacam itu. Karena dengan begitu saya bisa belajar. Diingatkan secara keras agar itu kejadian menempel di kepala.

“Wah lo jangan melarikan diri dari kenyataan gitu dong! Kalo lo lari kaya gitu, kapan lo bisa belajarnya. Anggep aja ini kaya pembelajaran.” Ucap seorang kawan kepada rekan kerja saya yang lain.

Ucapan dia itu memang benar adanya. Tidak semua orang bisa mengajari orang dengan sabar. Bukan sabar juga kali ya. Hmmm…pokoknya tidak semua orang bisa dengan santai, sabar, mengayomi, santun dalam memberikan pelajaran. Ya seperti guru-guru di sekolah saja. Ada yang galak, ada yang penyabar, ada yang tidak bisa mengajar, ada cuek banget, dan segala macemnya.

Teknik pengajaran yang lumayan membuat hati atau jantung berdebar-debar, malah sudah saya temui semenjak saya duduk di bangku Sekolah Dasar. Pada saat itu ada beberapa guru yang saya nilai cukup galak. Kegalakan guru itu juga masih wajar, menurut saya. Pasalnya, itu guru jadi marah karena ada hal yang membuat marah.

“Jeduk!” kalau tidak salah kepala teman saya dijedotin ke tembok. Setelah ditarik jambang kanannya teman saya. Kenapa dia mendapat perlakuan seperti itu? Mungkin ada yang bisa menebak? Silahkan saja…

Saya coba kasih petunjuk. Saya dan teman saya sedang duduk di bangku SD. Kejadian itu terjadi di dalam kelas. Terus selang beberapa lama kemudian teman saya itu dibawa ke ruang kepala sekolah.

“Klepak!” bunyi tamparan, sebagai bentuk hadiah dari Kepala Sekolah.

Sudah ada yang bisa menebak? Mungkin tidak, karena saya sendiri tidak memberitahukan petunjuk yang jelas.

Langsung saja. Teman saya itu membawa majalah asoy, Penthouse, ke sekolah. Mungkin pada awalnya dia ingin memamerkan barang syur, yang saya tidak sempat lihat waktu itu, ke teman-teman saya. Tapi karena dia terlalu antusias, guru pun menjadi objek yang dia harus pamerkan. Ya sudah, akhirnya diberikan pelajaranlah kawan saya itu.

Intinya sih pengajaran yang baik itu bisa dilakukan dengan banyak cara kali ya. Bisa keras, bisa juga lembut. Sekarang mana yang jadi pilihan saya?

Monday, March 29, 2010

Was-Wes-Wos Kanan-Kiri Ujian!

Saya adalah satu dari seribu milyar orang di dunia ini, yang pernah atau sering menjalani ujian dalam kehidupan. Baik itu ujian tertulis untuk sekolah atau ujian tidak tertulis untuk kehidupan sehari-hari. Capek rasanya bila sedang menjalani masa-masa ujian itu dan saya yakin semua orang juga berpendapat yang sama dan merasakan hal yang sama.

Beberapa waktu yang lalu saya sempat mendengar gonjang-ganjing tentang permasalahan ujian. Untuk kali ini ujian yang dimaksud adalah ujian nasional! Jika saya masih duduk di bangku sekolah sudah pasti kata ujian nasional itu adalah kata yang amat sangat membuat saya takut setengah mati. Mungkin jika mau dicari persamaannya dalam kehidupan saya sekarang ini, kata itu akan semenakutkan kata, “Idenya jelek!!!”

Memang benar begitu adanya. Dulu waktu saya masih sekolah, mau itu Sekolah Dasar atau Sekolah Menengah Pertama, jika sudah datang waktu untuk EHB dan sejenisnya, wuih bukan main dakdikduknya hatiku ini. Segala macam harus dipersiapkan demi mendapatkan hasil atau nilai yang baik. Belajar tanpa kenal lelah! Belajar… ada kali ½ jam… selebihnya tidur pulas sampai pagi.

Keesokan harinya pasti semua yang dipelajari semalam, hilang tak berbekas. Alhasil saya hanya bisa melongok, menatap ke segala arah—kebanyakan sih ke arah atas seakan-akan saya sedang berpikir padahal tidak!

Itu pada saat saya SD atau SMP. Lain halnya ketika saya duduk di bangku SMA. Kalau waktu saya SMA sih, ujian tidak begitu menakutkan. Pasalnya setiap kali mau ujian, dari kelas satu sampai kelas tiga, pasti saja secara tiba-tiba datang suatu pencerahan.

Kertas-kertas kecil seukuran telapak tangan atau mungkin lebih kecil lagi, berseliweran dari satu tangan ke tangan yang lain. Kertas kecil itu berisi huruf-huruf A, B, C, D ,E. Isinya tidak lain dan tidak bukan adalah jawaban soal ujian—itu lho ujian catur wulan, lupa saya namanya apaan.

Nah semenjak itu, saya sih santai-santai saja kalau sudah mau menjelang pekan ujian. Saya yakin lembaran-lembaran itu akan datang ke tangan saya. Jadi saya tidak perlu belajar lagi, cukup mencontek apa yang ada di tangan saya itu. Hasilnya, ya gak tahu juga saya, karena tidak ada satupun hasil dari ujian yang pernah dibagikan. Tapi yang pasti syukur Alhamdulillah saya selalu berhasil naik kelas, walaupun dengan nilai yaa secukupnya ajalah.

Entah kenapa pencerahan semasa SMA itu semakin meningkat saja. Lama-kelamaan saya dan teman-teman tidak lagi mendapatkan kertas-kertas berisikan lima huruf istimewa, karena kami semua tidak lagi membutuhkan itu. Karena kami pada saat itu, langsung mendapatkan kertas soal dalam bentuk fotocopy! Dan itu datangnya sehari sebelum pelaksanaan ujian.

Malam sebelum pelaksanaan ujian, kami pun belajar dengan giat. Mencocokkan soal dengan jawaban langsung dari buku. Kami mengingat-ingat apa soalnya dan apa jawabannya. Jadi seumpama soal dibolak-balik, diacak-acak urutannya ya tidak masalah tidak seperti sebelumnya.

“Eh ini ada bocoran nih! Lo catet dah, tapi liat-liat dulu. Lo cocokin bener apa engga itu jawaban.” Ucap seorang kawan

“Tenkyu-tenkyu, bentar gua catet dulu jawabannya.” Tanggap yang lainnya.

Tidak ada lagi tuh adegan seperti itu, karena kami memiliki kertas soal yang lengkap dengan kop surat departemen terkait di atasnya. Kalau pada awal-awal kami mesti memastikan dengan cara mengurutkan jawaban dengan soal—apabila sesuai maka lanjut saja kalau tidak mending distop!—nah kalau sudah ada soalnya sih santaaiii…

Saya rasa yang kedua ini lebih baik dari yang pertama. Karena dengan begitu kita atau saya bisa belajar terlebih dahulu. Kalau yang pertama mah, boro-boro belajar! Nyentuh buku aja ogah! Tinggal liat aja ke kertas kecil di tangan, di hapusan, di pulpen atau di mana ada tempat untuk menyelipkan kertas di situ bakal ada kertas bocoran.

Tiba-tiba saja melintas di kepala saya, waktu ketika saya ulangan biologi. Pada saat itu, biologi adalah salah satu dari semua pelajaran IPA yang sulit saya mengerti. Walaupun itu hafalan, tapi tetap saja saya sulit menerimanya. Ya biosforalah, ya monokotillah, ya testoteronlah, dan segala macamnyalah. Karena hal itu pulalah akhirnya saya membuat suatu contekan.

Strateginya seperti ini, bahan-bahan yang kira bakal keluar di ulangan itu, saya catat di buku fisika. Nah pas pada hari H, itu buku fisika saya letakkan di bawah meja. Pada hari H, guru yang matanya tidak pernah berhenti berotasi itu, secara sengaja melihat saya yang sedang menunduk dan melihat ke bawah meja. Dia pun datang menghampiri saya.

“Kamu ngapain? Ayo keluarin bukunya!” Perintah sang guru.

“Ini bu…” Jawab saya sambil mengeluarkan buku fisika saya.

Mungkin si guru siteng juga kali ya, karena ia mendapatkan saya melihat buku fisika bukan buku biologi.

“Ngapain sih kamu??”

“Ini bu, pulpen saya bocor. Saya mo coret-coret di buku ini…”

Dan saya berhasil mengelabui dia. Terus bagaimana dengan hasil ulangan saya? Sepertinya sih sama saja. Gak bagus juga.

Kembali lagi ke masalah ujian. Nah pada saat Ebtanas inilah, kami semua tidak mendapatkan pencerahan kembali. Awalnya sih, katanya ada beberapa orang anak yang berhasil mendapatkan bocoran. Tapi setelah lama ditunggu ternyata mereka semua tertipu. Bukan hanya tertipu soal tapi juga tertipu uang. Kalo enggak salah sih lima juta ilang! Mereka mengeluarkan uang banyak hanya untuk kertas soal ujian tahun lalu.

Mungkin karena hal-hal seperti itulah, saya dan ia selalu menganggap bahwa mimpi yang ceritanya tentang waktu sekolah, apalagi pas ujian adalah salah satu mimpi buruk! Saya sungguh gak mau mengalami masa-masa itu, gak ada enak-enaknya! Padahal ujian yang saya hadapi sekarang itu lebih berat. Belum ditambah dengan bumbu racikan yang membuat ujian itu terasa lebih gurih. Maunya teriak, cuman nanti dibilang cupu! Kalau dipendam malah jadi runyam bikin ketombe di kepala jadi muncul! Weleh-weleh!

Kalau sudah gini, saya berpikir jadi selama ini saya disekolahkan agar saya siap menghadapi ujian di atas kertas, bukan ujian sesungguhnya. Menghadapi ujian yang kemungkinan besar ada bocorannya. Seandainya ujian-ujian kehidupan itu ada bocorannya, saya pasti jadi bisa lihai menghadapi was-was-wos kanan-kirinya.

Sunday, December 13, 2009

Drama King

Entah kenapa sepertinya kebanyakan orang atau setidaknya orang-orang yang pernah saya amati, gemar untuk mengeksplorasi sisi gelapnya. Dari mana saya mendapatkan pandangan seperti ini? Ya jelas dari karya-karya mereka...

"Wah ini video bikinan temen gue nih, hebat juga dia bisa jadi finalis." ucap seorang teman.
"Tentang apaan tuh?" tanya saya.

Belum sempat teman saya menjawab dengan seketika saya yang baru melihat sekelibatan langsung menyambar.

"Isinya gloomy2 gitu ya, nuansa gelap amat..."

Teman saya pun mengiyakan dan dari situlah pendapat yang saya lontarkan di atas bermulai.

Saya kemudian seperti berpikir ke dalam diri saya, tidak ke orang lain. Karena setelah dipikir-pikir, saya pun seperti apa yang saya lontarkan, gemar bermain-main di daerah yang gelap.

Dahulu ketika waktu-waktu awal saya bekerja untuk pertama kalinya, seorang teman pernah mengungkapkan hal yang kurang lebih serupa.

"Wah waktu dulu si editor yang edit tulisan loe ngomong sesuatu tentang loe gara-gara tulisan loe... dia bilang, 'Wah ini temen loe sama kaya gue nih. Tulisannya gelap amat. Ceritanya juga gelap bener. Sama kaya gue dulu.' Gitu katanya."

Saya pun tidak berasa sendirian di dunia ini.

Entah kenapa saya memang bisa lebih lepas dan bermain-main jauh dengan khayalan kegelapan saya. Mendramatisir keadaan-keadaan yang negatif. Membesar-besarkan penderitaan. Meluluh lantahkan kesenangan dan senyuman. Pokoknya kalau digambar di kanvas itu tulisan-tulisan saya, warna yang dominan ada gelap, bisa jadi hitam, merah gelap, dan sedikit saja goresan putih atau kuning.

Baru saja saya melihat status seorang kawan di sebuah situs pertemanan. Dia menuliskan sesuatu yang berbau gelap tapi tidak sesangar gelapnya musik metal. Dia tuliskan bagaimana hidup yang cukup sengsara dengan ditutupi oleh fisik yang gembira.

Ya! Saya pernah menuliskan hal-hal yang seperti itu. Persis seperti itu. Lagi-lagi hal yang berbau kegelapan tapi dalam hal ini bumbui dengan tema percintaan.

Terus, beberapa hari yang lalu setelah lama saya tidak menulis, beneran menulis pake tangan, saya kembali menuliskan sesuatu yang negatif, berbau kesedihan. Mungkin karena topik yang dilemparkan juga berbau negatif, kehilangan.

Kalau sudah gitu sih, ya mau ga mau kan saya menuliskan topik kehilangan dengan amat teramat sedih dan negatif. Padahal kalau dipikir-pikir topik kehilangan itu bisa saja dikembangkan menjadi sesuatu yang positif.

Dan benar saja. Ternyata si penggagas acara wednesday writer ini memang bermaksud seperti itu. Bahwa tidak semua kehilangan akan berbau negatif, kesedihan dan lain-lainnya. Bisa saja sesuatu yang menyenangkan seperti kehilangan penyakit, kehilangan mobil rongsokan dapetin mobil baru.

Nah hal-hal yang saya sebutkan diatas berimbas pada pekerjaan saya. Pekerjaan yang mengharuskan saya untuk menyampaikan sesuatu yang positif. Tidak jarang hasil dari khayalan saya masih berbau negatif dan secara tidak sadar, atau saya yang malas menghayal lagi, langsung saja saya tuliskan di selembar kertas.

Hasilnya... pekerjaan saya ditolak oleh sang klien.

"Ini kan iklan, harus yang berbau yang positif-positif gitu ya... jangan ada yang iri-iri gini. lebih ke yang heboh menyenangkan aja..."

Huuuh... ternyata dua-dua materi yang saya ajukan gak ada satu acan yang nempel di hati si klien.

Ya sudah... Emang udah saatnya nih saya menghilangkan segala ke-gloomy-an, kesok-darkside-an saya dan segala embel-embel yang berbau seperti itu demi kemajuan pekerjaan saya. Sudah saatnya saya menghentikan peranan "Drama King" dalam diri saya.

Ahuehuyheuhuy.....!!!!

Monday, September 28, 2009

Mencoba Melawak Dengan Setir Lepas…

Tidak semua orang pandai melawak, jangan kan “pandai melawak”, “bisa melawak” pun menurut saya tidak banyak orang yang bisa. Apa cuman saya saja ya yang berpikiran seperti itu, hanya karena saya tidak bisa melawak.

Saya rasa iya… memang itu salah satu alasan kenapa saya mengemukakan pernyataan itu. Tapi saya yakin tidak hanya saya yang berpendapat seperti itu. Saya yakin orang lain juga dapat menyetujuinya, karena pendapat saya itu pasti ada benarnya juga dong, tidak salah seratus persen. Buktinya ya saya sendiri ini dan ada beberapa teman juga sih yang sepengetahuan saya sukar untuk bisa melawak.

Susah… susah sekali saya melawak, yang ada kalau saya mencoba melawak, orang-orang di sekitar saya hanya terdiam dan terbengong melihat ke arah saya. Garing kalau orang-orang bilang. Pernah saya mencoba melawak tapi hasilnya... ya seperti yang saya tuliskan tadi. Teman saya malah berkata sambil terbingung-bingung, “Ha?? See…riuss… lu….?...?” Tapi walaupun begitu saya masih bisa bersyukur, pasalnya ia masih suka tertawa bila saya memberikan lawakan-lawakan garing kepadanya.

Ada beberapa teman yang berkata kepada saya bahwa, kalau saya sedang melawak dengan sedang serius tidak ada bedanya, mimik muka saya selalu saja serius. Mungkin karena dahulu, ketika SMA saya lebih sering mengernyit ketimbang tersenyum, jadinya ya kebawa-bawa sampai kapan pun jua.

Saya berpikir kalau saya melawak dengan muka serius adalah suatu hal yang lumrah, karena setiap orang pasti memiliki ciri lawaknya sendiri. Namun, ternyata eh ternyata ciri lawak yang berusaha saya tonjolkan ini sama sekali tidak membantu saya untuk sukses melawak. Bahkan yang terjadi adalah sebalik, gagal maning-gagal maning dan lebih parah lagi gatot alias gagal total.

Bicara soal melawak saya jadi teringat dengan bulan puasa kemarin. Sepanjang bulan puasa kemarin, otak saya dan mata saya penuh karena dijejali dengan berbagai tayangan lawak. Baru pas lebaran saja, acara lawak itu sedikit teralihkan karena kehadiran tayangan Live Concert-nya Michael Jackson. Mulai dari sahur hingga berbuka, semua isi tayangan di teve, melulu menyajikan tayangan ketawa-ketiwi. Beda dengan beberapa tahun yang lalu, saat Bapak-Yang-Memiliki-Nama-Sangat-Arab-Sekali menghiasi layar kaca.

Tapi kalau boleh saya jujur, tayangan-tayangan lawak yang ada pada saat sahur itu membuat saya merasa miris. Saya rasa sih tayangan itu tidak pada tempatnya dan tidak membuat saya tertawa terbahak-bahak, selain masih merasa ngantuk juga karena lawakan tersebut tidak masuk di kepala saya. Wah, apa jangan-jangan saya sudah menjadi bapak-bapak dewasa yang konservatif ya?

Mungkin lebih baik saya jelaskan saja alasannya.

Pertama, lawakannya itu hanya menyuguhkan pelawak-pelawak saling memukul satu sama lain. Saling menghancurkan property yang ada. Saling mendorong hingga lawan mainnya jumpalitan teu pararuguh. Kalau orang bule bilang lawakannya ini lawakan slapstick. Slap sama dengan tampar, stick sama dengan kayu, jadinya lawakan tampar-kayu.

Lawakan model itu, sangat dilarang oleh kepala kelompok saya di kantor. Cheap, Corky atau Corny kata dia... atawa Crunchy ya, lupa saya. Yang pasti ide orang-orang jatuh karena satu atau dua perempuan ditolak oleh dia dan harus diganti. Alhasil karena kemampuan lawak saya di bawah rata-rata, akhirnya treatment lawak langsung diserahkeun kepada bapak sutradara saja.

Oh ya, terkadang cerita yang ada pada tayangan lawak itu, hampir tidak ada. Sampai-sampai sang aktor sutradara pun berteriak, “Benaaanggg Merahhhh!!!” Awalnya sih memang lucu tapi lama kelamaan, ah bosen dan kesian saya melihatnya.

Kedua, lawakannya itu tidak pada tempatnya. Saya bukan orang yang paham benar tentang agama dan saya juga bukan orang yang sangat religius—terkadang masih suka STMJ dan alkohol iya, babi enggak—tapi gini-gini saya juga masih tahu tempat, ibarat kata eling sama keadaan. Mbok ya, lagi puasa-puasa gini gak usah pukul-pukulan tho, lebih baik kan elus-elusan biar saya juga bisa menikmati dan yang lain pun juga bisa.

Beberapa tahun yang lalu saya masih menikmati kok acara-acara sahur yang tidak sepenuhnya berisi ceramah dari si Bapak-Yang-Memiliki-Nama-Sangat-Arab-Sekali. Ada sebuah tayangan yang bagus menurut saya, yang dibintangi oleh dua musisi di satu band, yang sekarang lebih terkenal sebagai presenter, yang menurut saya masih berbobot, yang apalagi nih ya, yang juga ada sesi ustadznya, yang dan lain-lainnya. Saya sangat menanti-nantikan acara itu malah. Kalau tahun-tahun sebelumnya saya bangun sudah mepet-mepet imsyak, pada tahun itu saya bangun jauh sebelum imsyak, hanya agar tidak ketinggalan acara sahur tersebut.

Ketawa ya, saya ketawa, dan setelah itu pada saat sang ustadz masuk untuk memberikan ceramah ya saya dengarkan, saya angguk-anggukkan kepala, saya masukkan ke telinga sembari tertawa. Ya lumayan lah pokoknya tayangan itu.

Namun berbeda dengan tahun ini. Kedua orang tua saya—yang suka melarang saya nonton film Warkop sembari mengatakan, “Ih itu apaan sih, film udelnya kemana-mana”—memberikan lontaran kalimat, “Sekarang acara puasa kok jadi gini ya.”

Setuju ayah-bunda, saya setuju dengan orang tua saya. Jujur saya merindukan acara-acara lawak yang okey. Lawak... sip, tapi yang aship! lah. Dan tidak usah berbicara mengenai lawak di bulan puasa saja, lawak yang aship! di bulan lainnya juga saya rindukan, namun lawakan yang bisa dibilang smart. Seperti komentar-komentar juri di acara pencari bakat lawak, “Lawakan grup kamu ini, lawakan yang smart lah pokoknya, salut untuk kelian.” (walaupun saya sendiri tidak tahu apa maksud si juri karena saya tidak menemukan di mana letak lawakan yang smart itu).

Teman saya juga pernah memberikan contoh pelawak yang smart, dan sayangnya contoh yang dia berikan itu berasal dari luar nagari, Jerry Seinfeld nama pelawaknya. Berkali-kali teman saya itu berkata bahwa Jerry Seinfeld itu memberikan lawakan yang smart. Berkali-kali pula dia memperagakan gesture Jerry Seinfeld yang sama.

Jadi gimana caranya melawak? Itu yang akan menjadi pertanyaan saya untuk di masa-masa mendatang. Saya hanya bisa berharap saya bisa melawak bukan dari tingkah pola kebodohan saya, bukan dari cara jatuh saya, bukan dari kata-kata kasar saya, bukan dari ejekan-ejekan saya, tapi dari kalimat-kalimat yang ciamik namun lucu dan sesuai dengan keadaan, waktu serta tempat. Mungkin saya harus bisa melawak yang hanya dengan membaca kalimatnya saja orang bisa tertawa. Seperti saat saya membaca lawakan Srimulat, “Para penumpang mohon maaf pesawat tidak bisa terbang dikarenakan setirnya lepas.”

Friday, September 18, 2009

Bir Iya Babi Engga

Lebaran sebentar lagi dan apakah saya sudah menjalankan bulan Ramadhan ini dengan sebaik-baiknya? Saya sih berharap iya. Namun, tidak tahu juga.

Seorang kenalan tadi bertanya kepada saya perihal bulan puasa ini.

"Gimana puasa udah ada yang batal belom?" tanya dia.
"Belom mas..." jawab saya.
"Alhamdulillah yah."
"Ya ga tahu juga sih mas. Kalo gak makan dan gak minum sih enggak..."
"Ya kalo perkara itu sih enggak ada yang tahu."

Dari percakapan singkat tersebut, saya kemudian sedikit merenung. Mungkin saja puasa yang saya jalankan ini belum benar-benar terlaksana dengan baik. Namun, kalau boleh saya mengajukan pembenaran, setidaknya saya sudah berusaha untuk menjalankan apa yang saya tahu tentang puasa. Beberapa rukun puasa yang saya harap saya lakukan dengan baik.

Katanya sih, seharusnya orang itu setelah lebaran atau setelah menjalani bulan Ramadhan akan menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Nah bagaimana dengan saya?

Sejujurnya saya masih begitu-begitu saja. Masih banyak hal-hal yang saya langgar dan masih banyak juga hal-hal yang saya anggap benar, dengan segala dalih, untuk saya lakukan. Walaupun begitu, saya masih tetap merasa ada juga perubahan yang saya jalani menuju ke arah yang lebih baik, biar sedikit.

Keyakinan saya adalah semua orang dapat berubah begitu juga dengan saya. Hanya yang menjadi permasalahan dalam diri saya adalah kesulitan untuk berubah 180 derajat. Saya merasa hal ini lumrah, karena ya memang sulit tapi bukannya tidak bisa untuk dilakukan.

Seperti halnya apa yang dilakukan oleh seorang teman saya.

Teman saya ini, waktu kecilnya bandel bukan main. Sampai-sampai seluruh teman-teman saya yang mengenal dia di masa kecil pun menyetujui pernyataan ini. Segala macam hal mulai dari aksi mengintimidasi ala anak kecil sampai hal-hal yang berbau porno dan melecehkan. Namun, satu hal yang cukup membuat teman-teman saya terperangah adalah ketika dia ijin untuk melaksanakan shalat.

"Haah??? Lo shalat nih sekarang?" tanya seorang teman.

Teman saya yang terkenal bandel itu pun membalas dengan tersenyum tanpa memberikan penjelasan apa-apa dan dengan santai tetap melaksanakan shalat meskipun mendapat tanggapan yang berbau seperti cibiran tersebut.

Ya orang dapat berubah walaupun sedikit demi sedikit karena setelah itu kami kembali bercanda menjurus ke arah pornografi dan bahkan prostitusi. Ada yang bilang 'jadi gak usah pake gelang', 'jadi calon istri loe yang nomer berapa nih' hingga 'jadi anak-anak loe semuanya kesebar di kota nih'. Mendengar hal itu kami semua hanya bisa tertawa karena menganggap semua itu adalah sebuah bahan canda.

Saya berharap saya dapat meminimilasir kesalahan, ketidak-benaran, ketidak-patuhan dalam hidup saya. Karena terkadang saya suka tersindir sendiri ketika seseorang bertanya kepada saya...

"Ini babi loh... Loe gak makan babi kan?"
"Enggak lah babi kan haram." jawab saya.
"Lah bukannya loe pernah minum-minum?"
"Nah kalo minum bir iya tapi makan babi engga."

Monday, August 3, 2009

Dasar Orang-orang Ga Punya Jati Diri!


Bingung bukan kepalang saya, ketika seorang senior menceramahi saya tentang jati diri bangsa Indonesia hanya karena baju yang saya pakai. Saya tidak pernah menyangka desain baju saya ini berdampak, atau dapat menjadi topik bahasan yang sungguh luas bahkan sangat dalam.

Ketika itu saya sedang memakai t-shirt dengan desain tokoh fuhrer, Adolf Hitler. Saya memakai t-shirt itu karena pertama t-shirt itu dibelikan oleh ibu (bukannya hendak menyalahkan ibu) dan kedua karena saya sendiri memang senang dengan desainnya serta ukurannya yang pas di tubuh saya.

“Itu gambar siapa?” Tanya sang senior berkepala botak itu.

“Hehehe… ini Asmuni.” Canda saya.

Saya melontarkan jawaban dengan maksud bercanda dan jawaban tersebut sebenarnya saya dapat dari seorang teman yang mengkomentari baju saya, “Wah baju lu ada Asmuni-nya tuh.”

Ternyata eh ternyata, canda saya berujung menjadi sesuatu yang sangat serius dan membuat saya hanya bisa tersenyum simpul.

“Lu kenapa coba pake baju itu? Lu tahu ga artinya apa? Ada lambang Nazi-nya segala lagi.” Tanya senior saya kembali.

Belum sempat saya menjawab bahkan belum terpikir apa jawaban yang akan saya beri, senior saya itu terus memberikan pertanyaan-pertanyaan hingga akhirnya dia menjelaskan tentang jati diri bangsa.

“Sekarang ini anak-anak muda udah keilangan jati dirinya. Kaya lu ini lah. Pake baju yang lo ga tau apa artinya.”

Saya masih dalam posisi terbujur kaku di lantai dan menatap kepala botak-hitamnya yang sedang berada di atas tubuhnya yang dia dudukkan di sebuah kursi. Teman saya pun melakukan hal yang serupa dengan saya: duduk manis serta tertawa seperlunya.

Teman saya ini lebih beruntung dibandingkan saya, pasalnya, dia bukan lah orang yang menjadi objek pembicaraan melainkan saya. Perasaan saya saat itu menjadi tidak keruan karena saya berpikir mengapa bisa sampai sejauh ini. Saya pun merasa dihakimi dan menerima sangkaan-sangkaan yang senior saya lontarkan karena saya sendiri merasa dia memang benar.

Senior saya melanjutkan ceritanya.

“Sekarang anak-anak pada gaya-gayaan makan di Mcd. Padahal, nih Amerika sana yang makan gituan tuh supir-supir truk! Di sini gayanya udah kaya orang kaya aja!”

Wah saya menjadi semakin bingung. Dia tidak bisa dibantahkan apalagi karena saya tidak punya argumen yang kuat untuk menandingi pembicaraannya.

“Lu tahu gak arti tuh lambang buat orang-orang Jerman aslinya!? Itu tuh sama aja kaya lambang palu arit di sini tahu gak! Kalo lu kesana pake baju ini, bisa habis kali!”

Wuih, pembicaraan kok mulai masuk ke topik sejarah kelam Indonesia. Saya lemah terhadap topik ini. Pokoknya sepanjang waktu itu saya lemah lah. Entah lah saya ingin berbicara tapi kok ya tidak bisa. Mana senior saya itu, kalau sudah nyerocos tidak mengenal titik. Terus saja dia berbicara sepanjang nafasnya yang tidak pernah berhenti.

Seorang senior lainnya masuk ke dalam ruangan. Si senior kepala botak itu pun sedikit menghentikan penjelasannya dan menoleh ke arah orang yang baru saja memunculkan dirinya di pintu.

“Coba lu tanya dia tuh yang pernah tinggal di Jerman. Eh, kalo ada orang yang pake baju kaya gini kira-kira di sana nasibnya bakal kaya apa tuh?”

Masih saja dia menyangkutkan saya dalam pertanyaannya.

“Ya paling dihabisin. Orang-orang sana tuh kesel kali ngeliat tuh lambang.” Jelas senior saya yang pernah tinggal di Jerman.

Waduh, jawabannya memperparah posisi saya kala itu, semakin semerawut lah saya jadinya. Ini itu salah, begini begitu salah. Ingin rasanya saya langsung membuka baju di tempat. Tapi karena rumah masih jauh dan penumpang bus akan melihat serta menilai saya, maka saya urungkan niat baik saya itu.

Pembicaraan 15 menit tersebut seakan-akan menjadi pembicaraan 15 jam. Saya lupa kenapa pembicaraan itu akhirnya berakhir, yang pasti setelah itu saya dapat bernafas lega dan saya berpikir berkali-kali ketika hendak memakai t-shirt yang sama. Tidak hanya itu, pembicaraan tersebut juga menyadarkan saya betapa oon-nya saya memakai sesuatu yang tidak saya ketahui apa artinya, apa pesan yang sebenarnya ingin disampaikan.

T-shirt itu tampaknya tidak pernah saya pakai kembali dan saya tidak tahu dimana keberadaannya saat ini. Mungkin t-shirt tersebut sudah berpindah tangan. Dan resek-nya saya mungkin t-shirt itu sudah dipakai oleh orang-orang yang membutuhkan baju dalam hal ini orang-orang yang kurang mampu. Untuk hal itu saya meminta maaf, karena tidak ada maksud untuk menyerupakan nasib si pemakai baju dengan nasib saya yang habis diceramahi oleh senior saya.

Semenjak itu, setiap saya melihat orang yang memakai baju dengan lambang serupa saya berkata dalam hati, “Dasar orang-orang ga punya jati diri!”

Tuesday, July 28, 2009

Jalanan Adalah Kehidupan


Bagi saya bus kota adalah salah satu tempat terbaik untuk digelarnya sebuah festival musik. Pasalnya, seringkali saya menemui musisi-musisi jalanan yang daya tampilnya luar biasa, baik dari segi kualitas vokal, keahlian memainkan alat musik sampai kecanggihan dalam aksi liuk-liku, gerak tubuh.

Mengapa saya bilang festival musik?

Penjelasannya kurang lebih seperti ini. Setahu saya, yang namanya festival musik biasanya terdiri dari berbagai macam performer. Nah, serupa kan. Di dalam bus kota sudah pasti musisi yang tampil itu berbagai macam. Jadi wajarlah kalau saya bilang ini adalah salah satu festival musik.

Baru saja saya membuktikan kembali pernyataan yang saya buat di atas. Sebuah pagelaran festival musik yang menurut saya luar biasa atau setidaknya dapat menghibur perjalanan pulang saya.

Dan tadi bukanlah kali pertama saya merasakan festival musik bus kota yang ciamik. Seperti yang saya sudah tuliskan tadi, sebenarnya banyak musisi-musisi jalanan yang mungkin keahliannya serupa atau bahkan bisa saya pastikan bahwa kemampuan dan keahlian mereka dalam membawakan lagu melebihi musisi-musisi yang berseliweran di teve. Lebih, karena penjiwaan mereka maksimal. Lebih, karena mereka mengasah kemampuan dengan otodidak (mungkin lho karena kondisi mereka yang jauh dari kata mewah). Lebih, karena mereka tampil apa adanya--tanpa efek, tanpa mixer.

Seperti yang tadi saya alami.

Tadi, ketika saya baru saja duduk di dalam bus, festival dimulai dengan seorang musisi jalanan yang bermodalkan alat musik okulele. Hanya saja untuk musisi abal-abal yang satu ini, dia masih jauh dari kata bagus dan saya sebenarnya membenci musisi yang tampil pertama kali tadi. Musisi jalanan pertama tampil dengan menggendong anak bayi dan ini membuat saya amat kesal namun tidak bisa berbuat apa-apa. Saya merasa kasihan dengan bayi tersebut dan saya merasa jengkel dengan musisi yang menggendongnya.

Sudahlah saya rasa musisi pertama ini disingkirkan saja, karena secara performa dia juga tidak ada bagus-bagusnya (sotoy juga gua bak kritikus musik ternama aja).

Lanjut ke Musisi kedua.

Musisi kedua ini seringkali saya temui jika menaiki AC76. Cuman bedanya, tadi dia sedikit beralih dari penampilan biasanya. Kalau yang lalu-lalu-lalu-lalu dia tampil hanya dengan secarik kertas untuk membawakan puisi, tadi dia tampil dengan sebuah gitar untuk membawakan beberapa lagu.

Dia pun menuju area pertunjukan, bus runaway stage biar lebih canggihnya. Seperti biasa kalimat pembuka pun dia lontarkan.

"Selamat malam... bla... bla... Saya merasa kasihan dengan bocah yang tadi. Tidak pantas dia dibawa-bawa ngamen. Itu saya, entah anda-anda sekalian." ucap sang musisi menanggapi performer sebelum dia.

Setelah memberikan beberapa patah kata, dia memulai aksinya. Dengan suara khas yang serak dia bernyanyi tentang Indonesia. Nada, lantunan, dan melodinya saya coba simak dengan baik. Saya merasa terhibur selain karena lagunya yang nikmat juga terhibur dengan semangat nasionalimenya.

Mungkin kalau saya benar-benar berada di panggung pertunjukan, saya akan memberikan applause kepadanya setiap dia selesai bernyanyi. Penghayatannya bagus, berkali-kali dia memejamkan mata untuk mendapatkan jiwa lagu yang ia bawakan.

Setelah dia bawakan dua lagu dengan durasi yang cukup panjang, diberikan lah kata-kata penutup olehnya. Sopan dan tidak menakutkan kata penutupnya. Perkataannya membuat saya merasa aman, jauh dari rasa takut akan penjahat yang suka berkeliaran di atas bus kota. Dia bahkan mengingatkan kepada seluruh penumpang agar tetap waspada dan jangan mudah terkecoh dengan penampilan luar seseorang karena bisa saja seseorang itu adalah seorang penjahat.

Musisi yang satu itu, menurut saya memang benar-benar seorang yang baik. Pasalnya, beberapa saat sebelum tadi dia juga pernah mengingatkan penumpang akan hal yang serupa. Beda halnya dengan musisi jalanan yang pernah saya temui di bus metro mini 72.

Kalau yang saya temui di metro mini 72 itu, si musisi tampak sangat urakan dan kasar. Hal itu saya dibuktikan oleh dirinya sendiri yang ketika ngedumel ia melontarkan kata, "Ko*&$l!!!" Mungkin kata itu terlontar karena dia kesal tidak ada penumpang yang memberinya uang, si salah satu musisi 72 tersebut. Tapi kan tidak semestinya juga.

Kembali ke AC 76. Sesampainya di blok m, musisi kedua tukar posisi dengan musisi berikutnya. Kali ini dua orang sekaligus yang tampil di bus runaway stage. Satu berperawakan tambun, satu lagi berperawakan kurus kerempeng. Mereka berdua masing-masing memegang satu gitar.

"Selamat malam, mungkin tadi anda-anda sekalian sudah dihibur dengan rekan saya. Kini saatnya kami menghibur anda." ujar sang pria tambun.

Mereka pun memulai lagu pertamanya. Baru saja awal-awal lagu, saya sudah merasa terkagum-kagum dengan mereka. Pasalnya, mereka memulai lagu dengan tarikan-tarikan melodi serta rhythm yang saling padu padan. Bunga Seroja lah yang mereka bawakan.

Si musisi tambun tampaknya jadi lead vocal dan si musisi kurus kerempeng jadi lead gitar serta backing vocal.

Si musisi tambun ini tampak sangat menikmati permainannya, membuat dia bergerak-gerak mengikuti irama lagu. Beruntung bus runaway area sedang tidak ramai, jika ramai mungkin sudah banyak orang yang jidadnya terantuk oleh neck guitar dia.

Sama seperti musisi yang kedua, si tambun pun berkali-kali memejamkan matanya untuk menghayati, untuk menjiwai musik tersebut. Suaranya melengking dengan volume yang keras. Sementara di sisinya, si kurus kerempeng di beberapa kesempatan ikut menyumbangkan suara untuk mendapatkan nada harmoni.

Si kurus tidak berhenti sampai di situ saja. Dia juga tidak mau kalah dengan si tambun. Dia tunjukan keahliannya dalam memetik gitar. Melodi-melodi yang--menurut saya si musisi kacangan--syuulit dia tampilkan kepada penumpang bus yang ada. Saya... Ya terpukau lah. Jago dia! dan setelah diingat-ingat, ternyata saya pernah melihat dia sebelumnya. Memang si kurus ini memiliki keahlian yang luar biasa.

Mata saya kembali mengarah ke si tambun yang asyik memejamkan mata, berteriak dan bergerak sesuai irama. Tidak beberapa lama kemudian terdengar suara, "Pletaaak!!!" Ternyata sangking bersemangatnya si tambun dalam memetik gitar, sampai-sampai salah satunya senarnya putus. Namun kejadian itu tidak membuat dia berhenti bermain. Terus saja dia bermain sampai lagunya habis.

Satu hal lagi yang saya suka dari mereka adalah aransemen lagunya. Beuh! Canggih beeut mereka, pake aransemen lagu segala. Bahkan menurut saya aransemen lagu mereka membuat lagu aslinya jadi terasa lebih hidup dan enak untuk dinikmati. Sekali lagi ingin rasanya saya bertepuk tangan cuman ya malu aja di bus tiba-tiba saya tepuk tangan sendiri. Alhasil, saya hanya menepuk-nepukkan jari ke tas sebagai gantinya tepuk tangan.

Mungkin ya, suatu saat nanti ada promotor musik yang terinspirasi dengan musisi-musisi jalanan tersebut. Mengadakan suatu pagelaran musik yang bertema "ngamen dalam bus". Isinya kurang lebih sama seperti yang biasa ada dalam bus kota. Hanya saja, para pengisi acaranya adalah artis-artis lawas dari Indonesia maupun luar Indonesia. Beeeuh bukan maen ciamik kan kalo udah gitu.

Jika memang ada, saya berharap saya dapat ikut serta dalam acara tersebut, karena saya dulu juga pernah merasakan tampil dalam bus kota. Tampil abal-abal, kacangan, payah.

Sekali lagi dan memang jika ada, mungkin harus ada beberapa tempat yang memang menampilkan musisi jalanan untuk beraksi di puluhan ribu penonton yang hadir. Bussseeeet!!!!

Jadi teringat sepenggal lirik yang pernah dibawakan oleh salah satu musisi jalan dan menurut saya liriknya itu bagus.

"Jalanan bukan pelarian, jalanan bla...bla... bla..., jalanan adalah kehidupan."

Sunday, July 26, 2009

Luar Rapuh Dalem Rapuh

Bagaimana caranya biar seseorang dapat diingat oleh banyak orang?

Kalau di pandangan saya sih ada dua jawaban. Pertama, bikin sesuatu yang hebat luar-biasa-canggihnya. Lalu yang kedua adalah punya karakter diri yang kuat-bak baja tekbal-perkasa bak tembok China.

Lalu apakah saya sudah dapat diingat oleh banyak orang?

Jawabannya kalau dipikir-pikir sih belum. Alasannya ya karena dua hal di atas juga. Saya belum bikin sesuatu yang wah-ciamiknya dan saya rasa karakter saya belum sekuat tembok China. Untuk kedua alasan tersebut saya bilang belum lho, bukan tidak. Jadi ada kemungkinan nanti saya bisa bikin sesuatu yang hebat-ciamik-dahsyat apa adanya. Amin.

Saat ini saya sedang berusaha membuat karakter-karakter untuk naskah kacangan saya dan karena itu pula saya lebih memilih untuk mengeluarkan unek-unek tentang alasan kedua ketimbang alasan pertama.

Saya bingung? Jelas iya. Hal ini disebabkan karena ya saya sendiri merasa belum memiliki sebuah karakter yang kuat. Bagaimana bisa saya bisa melahirkan karakter-karakter jika saya sendiri masih yaa...

Saya memiliki beberapa teman yang memiliki karakter yang sangat kuat. Kuat disini bukan cuman kuat fisik dan macam-macamnya. Tapi sifat dan sikap serta pemikiran yang ada pada diri seseorang. Begitu juga dengan karakter beberapa teman saya ini.

"Lo emang kenapa? Kok putus sama dia." tanya seorang teman.
"Wah udah ga bisa deh. Ini udah masalah prinsip." jawabnya.

Beuh! putus karena masalah prinsip. Saya rasa itu adalah salah satu contoh orang dengan karakter yang kuat. Ya, setidaknya kekerasan hati dan pemikirannya dapat dikatakan kuat. Padahal waktu itu saya dan teman saya itu masih duduk di bangku SMA lho...

Jadi terlintas pembicaraan beberapa waktu yang lalu dengan salah seorang teman di messenger. Kala itu saya sedang berbicara tentang ajang festival rock yang akan diadakan beberapa saat lagi. Setelah mengetahui bahwa nanti akan ada Mr. Big, saya langsung teringat oleh salah satu teman saya lagi yang menurut saya juga berkarakter kuat.

"Yang bener lu mereka reunian? Kalo gitu gua mesti bilang ke Agus--nama disamarkan dong--BS nih." ujar saya.
"Agus BS siapa lih?" ungkapnya.
"Lah emang lo ga tahu? Gak pernah denger?
"Engga. Engga pernah denger gua."
"Kata BS itu yang awalnya dari dia lih."
"Ah yang bener lu??"

Setelah saya menjelaskan secara rinci tentang siapa itu Agus BS, teman saya langsung menyadari keberadaannya. Karakter orang yang kami bicarakan itu, menurut saya cukup kuat. Pasalnya, ya karena tadi itu, karena karakter dia itu asal muasal kata BS atau yang dikenal sebagai Bullshit alias Bokis jadi. Kalau teman saya yang satu itu sudah bicara, wuiih fantasinya liar kemana-mana.

Sudah gitu, jika ia menyanyikan lagu, ia pasti menyanyikannya dengan sangat detail. Mulai dari Intro, Chorus, sampai Outro. Detail dalam arti kata sangat amat detail, sampai lengkingan gitar melodi pada saat melodi gitar di lagu tersebut muncul pun ia dengungkan. Entah kenapa, ia sangat-sangat menikmati saat-saat ia menyanyikan lagu--paling gila adalah lagu-lagunya Bon Jovi dan Mr. Big--dan ia tidak peduli dengan orang disebelahnya merasa terganggu atau tidak.

Sangking kuatnya karakter teman saya ini, sampai-sampai orang yang berada disampingnya pun terkena julukan BS, Budi--nama disamarkan lagi euy--BS.

Kalau saya mana bisa seperti itu. Saya hanya bisa diam kalau bertemu orang banyak. Bagaimana bisa diingat ya kalau gitu, tapi ya tidak apa-apa juga, karena tidak terlalu penting juga. Bagi saya diingat oleh orang-orang terdekat sangatlah cukup. Saya rasa dengan berisiknya seseorang, maka seseorang tersebut juga dapat mudah diingat oleh orang lain. Seperti halnya teman saya yang satu ini.

"Wah lu jangan suruh dia diem deh. Kalo dia diem bisa mati dia. Orang kerjanya cuman ngomong mulu ga berenti-berenti." saran teman saya.

Memang benar saya memiliki seorang teman yang berbicaranya tidak habis-habis. Sudah gitu bila dia berbicara, pasti dia berbicara dengan nada yang lantang serta gaya yang luar biasa menggebu-gebu. Saya pun mengingat dia seperti itu layaknya orang lain mengingat dia sebagai orang yang berisik!

Dan itu lah yang menurut saya seseorang dengan karakter yang kuat dan mudah diingat oleh banyak orang. Kalau saya mah belum dekat dari hal itu. Satu hal lagi. Menurut saya karakter yang kuat itu harus 100% maksimal. Tidak setengah-setengah, menurut hemat saya lho ini.

Nah kalau dipikir-pikir begitu lah saya, setengah-setengah. Walaupun saya diam, bukan berarti saya tidak pernah berkata-kata. Mungkin karena ini pula saya semakin tidak mudah diingat, karakternya setengah-setengah.

Saya pernah mengeluarkan kata-kata. Saya pernah mengeluarkan kalimat ejekan. Saya pernah berbicara dengan orang banyak, tapi ya ga banyak-banyak. Saya hanya bisa bicara ketika keadaan yang tidak begitu ramai. Dan itulah yang saya maksud setengah-setengah. Sehaursnya saya kalau mau diam yang diam 100% maksimal!!!

Saya berkarakter setengah-setengah... hal ini sempat terlintas dalam pikiran saya ketika saya dan seorang teman, yang memiliki karakter 100% maksimal, sedang berlari sambil bercakap-cakap di Gelora Bung Karno.

"Temen lu tuh, udah jadian, udah tahu belom lu?" ungkap seorang teman.
"Oooh akhirnya jadian." jawab saya
"Iya, mana dia minta ijin dulu lagi sama mantannya--yang teman kami juga."
"Hahaha yang bener lu??"
"Iya bener. Gitu-gitu dia sebenernya orang yang rapuh lagi. Luarnya doang yang kayanya kuat padahal mah dalemnya mehul."
"Iya, masih mending lu ya. Luar rapuh dalem juga rapuh."
"Sialan luh!" tanggap teman saya sembari tersenyum mengakui.

Tuesday, June 30, 2009

The Beatles Rockband, The Rivers? Soon...

Mereka sih selalu menjadi idola saya, bahkan mungkin idola Anda juga. Sulit rasanya bagi saya untuk tidak menyukai karya-karya mereka dan ingin rasanya saya membuat karya yang tidak mirip dengan mereka tapi lebih dari mereka.

Mungkin saya bisa memulainya dengan apa yang saya bisa saja, menulis.

Videonya bagus dan animasinya bagus. Saya ingin berkomentar tentang nilai seni tapi belum berani ah. Saya hanya mau komentar tentang The Beatles Rockband sajalah. Setahu saya The Beatles Rockband ini adalah salah satu video game yang nanti akan di rilis pada, bilangnya apa ya kuarter ketiga tahun ini kali ya. Ya, isinya tentu lagu-lagunya The Beatles lah bukan The Rivers--kalau yang ini band saya yang tidak akan bubar seumur hidup hanya vakum untuk seumur hidup.

Saya menantikan rilisan video game ini.

Monday, June 29, 2009

Paris Hilton Versus Agus Tulip


"Asri apa kabarnya tuh???" tanya seorang teman dengan diiringi gelak tawa yang membahana di warung indomie bilangan mahakam.

Teman saya menyampaikan kalimat tanya tersebut ketika saya dan teman-teman yang lain membicarakan tentang tragedi di Situ Gintung. Saya bingung mengapa tiba-tiba teman saya yang terkenal dengan gaya urakannya ini bertanya tentang Asri. Memangnya ada apa dengan Asri?

Dia kemudian melanjutkan, "Hahahaha mestinya Asri itu yang rata!!!"

Saya berpikir kembali hah? Asri, Rata?

"Itu tempat kan maksiat banget. Hahahahah!"

Setelah mendengar kata maksiat baru lah saya sadar kemana arah dari pembicaraan teman saya itu. Hotel Asri di kawasan dekat rumah saya.

Hotel Asri memang salah satu hotel di kawasan dekat rumah saya yang bertahan sangat lama. Padahal kalau saya lewati hotel ini setiap harinya, saya seperti melihat hotel yang sudah bangkrut. Tapi itu hanya tampilan luarnya saja. Buktinya Hotel Asri ini masih tetap buka. Hotel ini adalah salah satu hotel yang kami duga sebagai tempat "saya tidak tahu itu apa" terselubung. Hotel tempat mereka yang senang "saya tidak tahu itu apa" menginap.

Pernah pada suatu masa--saya sebut masa karena memang hanya beberapa saat saja--ada seorang wanita yang mangkal di depan hotel ini. Pada awalnya saya mengira bahwa wanita itu adalah seorang penumpang yang sedang menunggu angkutan umum. Tapi kok hampir setiap malam. Hingga akhirnya saya menduga bahwa wanita itu adalah seorang wanita tuna susila yang sedang menjajakan dirinya.

Mengapa saya sampai hati memberikan dugaan tersebut? Pasalnya, saya seringkali melihat wanita itu berbicara dengan pengendara motor di setiap harinya dan setiap hari itu dengan pengendara yang berbeda. Hal ini kemudian disetujui oleh beberapa teman saya yang menduga hal serupa dengan saya.

Cukup tentang wanita tersebut, kembali ke Hotel Asri.

Hotel Asri mungkin salah dari hotel yang menyuguhkan fasilitas khusus saya "tidak tahu itu apa". Jujur saya pernah menginap di salah satu hotel khusus itu, tetapi bukan yang ada di Jakarta melainkan di Surabaya (canggih juga ya melanglang buana ke hotel khusus hingga ke Surabaya). Waktu itu saya menginap bersama teman-teman saya sehabis kami menyelesaikan pendakian ke Gunung Semeru.

Waktu itu kami ditemani kakak saya mencari-cari hotel yang murah dan dekat dengan stasion kota Surabaya. Alhasil setelah berputar-putar dan bertanya-tanya kami pun diantarkan oleh beberapa tukang becak ke hotel tersebut. Kami diantarkan sampai ke depan lobby hotel. Beruntung Surabaya adalah kota yang hampir tidak bisa kami singgahi, jadi kami semua tidak merasa malu sama sekali. Kalau saja di Jakarta mungkin saya dan teman-teman saya akan menutup muka semua untuk mengatasi rasa malu. Oh iya, waktu itu saya tidak ikut menaiki becak karena saya diantar oleh kakak saya dengan mobil.

Kami pun memesan dua kamar. Resepsionis hotel memberikan kami kunci kamar lalu kami berjalan menuju kamar yang dimaksud. Di dalam kamar, kami semua tertawa cekikikan melihat keadaan kamar yang amburadul. Belum lagi dengan banyaknya noda yang tidak jelas di atas sprei, di dinding dan di lantai. Kami semua jijik dengan keadaan kamar itu, belum lagi dengan keadaan kamar mandinya, widiiih... Yaa tapi mau bagaimana lagi, uang tidak banyak dan hotel ini dekat dengan stasion, ya sudah lah kami terima keadaan ini.

Saya kemudian diajak kakak saya ke rumah teman ayah saya yang dijadikan tempat tinggal kakak saya di Surabaya.

"Waah hebat, gimana sampe puncak ga?" tanya teman ayah saya.
"Sampe Oom..."
"Ya sudah kamu istirahat di sini."
"Wah saya udah dapet hotel Oom..."
"Hotel dimana?"
"Di Pasar Besar itu Oom, yang deket stasion kota."

Teman ayah saya mendadak berubah mimik mukanya. Dia kaget mendengar jawaban saya.

"Waah... di hotel itu... waah... udah di sini aja..." jawabnya yang seperti menjelaskan bahwa hotel yang saya akan tempati itu adalah hotel yang untuk "saya tidak tahu itu apa".

Karena tidak enak dengan teman-teman saya, ajakan ramah teman ayah saya itu terpaksa saya tolak. Akhirnya saya hanya menumpang mandi dan kemudian kembali ke hotel. Karena rasa lelah yang luar biasa akhirnya kami semua bisa tidur dengan nyenyak. Baru pada keesokan harinya, kami seakan-akan tersadar HAH! HOTEL APA INI! HIDIHHH ITU DI DINDING APAAN!


Tapi walaupun begitu hotel itu menjadi kenangan bagi kami semua. Pernah suatu saat teman saya melewati kembali hotel tersebut karena dia sedang dinas di Surabaya. Karena saking kagumnya dengan keadaan kami waktu dahulu kala dia pun meng-sms saya, "Oi lu masih inget ga hotel yang di pasar besar itu! gue lagi ngelewatin nih! hahahah!"

Banyak memang hotel seperti itu, sampai-sampai juga ada di Surabaya.

Kalau di Jakarta katanya--supaya tetap dinilai baik oleh orang-orang--lebih banyak terlebih lagi di daerah Jakarta Pusat dan Jakarta Utara. Ya saya tidak tahu secara detail lokasi dan nama-namanya.

Saya mengetahui beberapa tempat yang serupa--cuman tahu aja lhoo. Bila kita jalan-jalan ke daerah Cilandak, ada dua tempat yang saya tahu serupa dengan hotel Asri. Sebutlah Hotel Hill Side dan Hotel Pondok Wisata. Lalu kalau berjalan lebih jauh lagi ke daerah Kebayoran Baru, kita akan bertemu--ini lebih terkenal lagi--Hotel Tulip.

Saking terkenalnya hotel tersebut, sampai-sampai teman saya pun sering mengejek teman saya yang lain dengan, "Lo tahu Paris Hilton kan, Kalo dia nih Agus--nama disamarkan hehehe--Tulip! Saingan tuh sama Hilton!!!"

Sunday, June 28, 2009

let's start it all over again

so this is the beginning.
one of my log pages...
the only one branch..

Thursday, January 4, 2007

Saya Suka Nia Dinata

Pernyataan itu sama sekali tidak dibuat-buat dan benar-benar terjadi pada diri saya. Secara terang-terangan dikeluarkan dari hati saya, tanpa basa-basi, tanpa rasa malu dan tanpa keraguan. Hal ini jarang saya alami, ini adalah kali pertama saya rasakan dan lakukan. Entah kenapa untuk kali ini, saya berani untuk bicara dengan lantang dan keras. Kalau saja bisa diteriakan melalui tulisan diatas secarik kertas maya, sudah pasti saya akan berteriak hingga mengeluarkan gema.

Pertanyaannya adalah kenapa?

Jawabannya, menurut saya jujur saja secara fisik dia menarik dan sudah pasti cantik. Karena kulitnya yang putih, rambutnya yang hitam dan kacamata yang menempel pada matanya. Sebuah perpaduan wujud fisik sempurna di mata saya. Memang itu bisa dikatakan sebagai kriteria standar pria melirik perempuan, tapi setidaknya saya bisa jujur bahwa yang membuat pria, lebih khusus lagi saya, melirik pasti dikarenakan keadaan fisik, bohong kalau ada yang berkata, “karena kepribadian saya bisa melirik perempuan”. Shit cat… Bagaimana caranya kepribadian bisa menarik perhatian, jika kepribadian itu belum pernah berkenalan dengan tangan kita? Fisik adalah utama!

Benih-benih ketertarikan fisik bereskalasi menjadi sebuah tindakan saya. Tindakan selanjutnya adalah jawaban dari rasa penasaran saya terhadap dia yaitu berusaha membuka percakapan dengannya. Untuk sekedar menggoda atau mungkin bisa lebih dari itu. Awalnya saya sangat takut untuk memulai tapi dengan prinsip it’s now or never akhirnya saya bisa membuka dan melakukan percakapan dengan menggunakan medium dunia maya. Berterima kasihlah saya pada kemajuan teknologi yang memungkinkan saya untuk bergerak.

Hambar dan kaku menyambut pergerakan pertama. Saya bertanya lalu dia menjawab apa adanya. Sedikit sekali kata-kata yang dia ucapkan. Tidak pernah dia mengeluarkan kata tanya dari mulut, tangan dan hatinya. Sangat-sangat tertutup dan pendiam, dasar selebritis. Yang membuat saya bingung adalah alur di etape awal ini bergerak sangat lamban dan dalam periode waktu yang cukup panjang. Wajar, karena dia juga tidak banyak tahu tentang saya walaupun secara formal kami sudah saling berkenalan atau bilang saja saling tahu. “Tidak pernah berbicara dan sepertinya bertegur sapa juga jarang.”

Rasa penasaran dan rasa suka membombardir isi kepala saya menyebabkan saya ingin terus berusaha membuat percakapan yang maksimal. Usaha demi usaha terus mengalir dari niat saya hingga akhirnya saya mendapatkan titik temu untuk menuju percakapan yang menarik. Kunci yang saya pikir tidak akan pernah saya dapatkan. Khayalan lah yang membuat perubahan pada dialog saya dengan dia. Semenjak itu saya senang dan girang karena tembok kekakuan sedikit demi sedikit bisa saya kunyah dan hancurkan. Dia mulai mengirimkan pertanyaan pada saya.

Dari dunia maya saatnya merambah ke dunia pergulatan ibu jari atau pesan-pesan singkat. Orang bilang, bila seseorang sudah berani mengirimkan pesan singkat dengan konteks isi yang menanyakan keadaan, maka tingkat pendekatan akan meninggi. Saya anggap itu sebagai sesuatu yang benar, karena untuk membalas pesan yang kita sampaikan seseorang rela mengeluarkan digit-digit pulsa, mengeluarkan biaya. Kembali lagi, sebuah awal menjadi suatu hal yang sangat menakutkan bagi saya. Ketakutan pesan saya tidak berbalas dan ketakutan dia akan bercerita pada teman-temannya. Setelah lama berpikir, akhirnya pesan itu terkirim dan saatnya untuk menunggu balasan darinya. “Lama… kok tidak ada balasan… lihat waktu baru satu menit… tapi kok terasa sangat lama…” Tiba-tiba ada getaran dan ada suara. Lihat dari siapa… dan wohohoho pesan terbalas. Manfaatkan momen ini dengan sebaik-baiknya. Terus kirim pesan, berusaha agar dia mengatakan kalimat tanya… tapi…susah… sama seperti pertemuan dunia maya di periode awal. Ternyata semua memang ada prosesnya, tidak bagus dan tidak seru juga kalau sifat instan menyelimuti. Pantang mundur dan selanjutnya tidak tertebak, pertanyaan walaupun sedikit akhirnya terlontar juga dari dia untuk saya.

Serangan lebih intensive dengan melebarkan sayap memanfaatkan penemuan dari Alexander Graham Bell = Telepon. Mendengarkan suaranya dengan notasi-notasi yang sopan dan lembut sekali pasti akan sangat-sangat menenangkan hati. Kali ini awal pembicaraan adalah tentang masa kecil. Dia pun bercerita banyak dan mulai mempercayakan saya untuk mendengarkan aib-aib masa kecilnya. Bukan aib juga menurut saya tapi biarlah yang penting pembicaraan mengalir. Dalam hati berkata, “ini adalah progres yang baik”. Terlebih lagi, cara saling bercengkrama tukar suara ini lebih bisa membuka pintu kepribadiannya hingga saya katakan, ”Ga nyangka ternyata Anda berbeda dan you’re a woman with a splendid character.”. Bodohnya saya adalah kenapa saya hanya bisa menelepon saja, tidak pernah berani untuk mengajaknya kencan. Ini adalah salah satu kelemahan saya sebagai seorang rumahan yang jarang mengenal tempat-tempat kencan yang baik. Satu lagi ketakutan dan ketidak beranian yang ada dalam diri ini adalah “Jika saja saya bisa memenangkan sayembara kencan bersama dia apakah para penggemarnya akan merasa jengkel dan marah kepada saya lalu mengatakan saya ini pengkhianat?”. Tapi lambat laun saya usir semua aura negatif itu dan saya pun mulai mengetahui tempat yang bagus dan sudah merencanakan waktu serta tempat yang tepat. Sayangnya…Kelamaan! Pesan mulai dibalas dikemudian hari… Pesan mulai tidak berbalas... Lihat ke depan rumahnya terpampang papan alamat yang tertulis in a relationship street number 22, Jakarta, Indonesia.

Sudah lah memang seorang selebritis tempat tinggalnya bukan di bumi melainkan di bintang. Teknologi mungkin bisa mencapai tempat tinggalnya tetapi kaki ini tidak bisa berjalan melewati batas. Mendaki gunung saja lelahnya bukan main, apalagi loncat ke bintang. Tidak akan mungkin! Dan saya juga kurang berteknologi.

Sekarang saya hanya bisa berkata, “Mba Nia Dinata, terima kasih atas obrolan yang menarik, terima kasih atas semua pertanyaan yang diajukan kepada saya, terima kasih telah bisa memberikan kepercayaan kepada saya, dan terima kasih membuat saya merasa bahwa Mba Nia Dinata sedikit tertarik pada saya. Walau pada akhirnya entah kosmonot atau astronot yang sangat hebat mana telah sampai terlebih dahulu di hunian Anda. Tapi walau begitu masih bisakah saya menjadi salah satu cast dari film dokumenter tentang biografi Anda. Jika masih, boleh kah saya berperan menjadi ….”

Apa intinya, kurang lebih seperti ini; Ragu-ragu + cupu + kurang pergaulan + kelamaaan !!!! = selamat tinggal mimpi, bangun…bangun…hari sudah siang.

Tetap semangat (menghadapi) selebritis selanjutnya. Dan tetaplah mengkhayal.

Wednesday, January 3, 2007

Limaempattigaduasatu…

Bila ada seseorang yang menanyakan kepada saya tentang hari apa yang orang lain secara umum merayakan sementara saya tidak. Maka saya akan dengan lantang dan penuh kepastian menjawab perayaan tahun baru. Tidak ada perayaan khusus untuk menyambut pergantian tahun. Kalaupun ada, saya hanya memanfaatkan untuk momen kebersamaan dengan teman-teman saya yang merayakan. Tidak ada yang menarik dan spesial di hati saya saat jam menunjukkan 24.00 atau 00.00 semua berjalan sangat-sangat biasa.

Sebenarnya pada awal-awal saya juga memperingati datang tahun baru. Saat itu di pikiran saya bila tahun baru tidak dirayakan maka akan menjadikan saya sebagai orang paling aneh yang pernah ada di muka bumi.

Saya teringat ketika saya kecil, waktu itu ayah saya sering mengajak jalan menjelang pergantian tahun. Masih ada dalam ingatan saya, kami sekeluarga terjebak macet di jalan Gunung Sahari. Tujuan utama kami adalah daerah Ancol. Kami semua berniat untuk melihat pertunjukan kembang api. Sebagai anak kecil tentu saja saya senang dan ayah saya juga pasti akan senang melihat anaknya senang. Akhirnya berjalan lah kami menuju Ancol. Hasilnya, kami semua berhenti di tengah kemacetan dan menikmati kembang api Ancol di tengah jalan Gunung Sahari, setelah itu saya tidak ingat apa-apa lagi, mungkin karena setelah itu saya tertidur atau setelah itu tidak ada yang menarik untuk diingat saya juga tidak tahu.

Tidak lupa disetiap pergantian tahun ayah saya selalu membelikan dua terompet satu untuk saya dan satu lagi untuk kakak saya berhubung adik saya belum lahir atau dia masih sangat kecil. Terompet itu pun kami bunyikan di dalam mobil hingga saya, kakak saya, ibu saya dan ayah saya pun budek. Lalu di kemudian harinya kami memainkan terompet itu kembali…. di rumah.

Lalu sebagai anak kecil hal yang bisa dilakukan pada saat malam tahun baru adalah kuat-kuatan tidak tidur seharian atau begadang. Pada saat itu begadang adalah sesuatu yang sangat luar biasa bagi saya. Bila pada hari-hari saya dipaksa dan dengan senang hati tidur jam 21.00 maka, pada malam tahun baru tidak ada yang memaksa saya untuk tidur cepat dan niat saya untuk tidak tidur pada jam 2100 bertambah. Mungkin karena didukung juga dengan acara-acara yang ada di televisi jadi niat untuk begadang jadi semakin kuat. Lalu bila tanggal 1 januari telah datang saya selalu menanyakan pada saudara saya, “Loe kemaren tidur jam berapa? Begadang ga? Gw dong tidurnya baru pas jam 3 pagi.” Kalimat itu juga mengandung unsur bohong karena sebenarnya sampai jam 1 pun saya tidak bisa menahan ngantuk, cuma sekedar untuk ajang bangga-bangga dan sekedar menjaga gengsi anak-anak. Rasa ngantuk yang membahana di jam 1 kalah setelah sedemikian kuatnya saya berjuang untuk tetap melek tetapi tetap tidak bisa. Sebalnya saya adalah rasa ngantuk itu menjadi sangat santer ketika film yang ditayangkan di televisi disela dengan pidato dari presiden Republik Indonesia, saya lupa apa iya presiden atau menteri atau pejabat pemerintahan lainnya. Yang jelas kata-kata mereka membuat saya sangat, sangat, sangat mengantuk.

Setelah beberapa perayaan tahun baru dilewati akhirnya saya menyadari bahwa pesta perayaan ini tidak ada arti yang mendalam. Perubahan terjadi ketika teman saya berkata,”Jadi ini nih matahari di tahun baru, mana kok ga ada bedanya.” Teman saya itu sedang melihat matahari yang baru saja terbit dari jendela kamar hotel. Semenjak itu tahun baru bagi saya merupakan perjalanan hari-hari biasa. Saat itu adalah masa SMA.

Kesadaran saya itu tidak hanya muncul gara-gara kata-kata teman saya. Kesadaran itu muncul diperkuatkan oleh kebingungan saya. Bingung karena dari sekian banyak perayaan yang di rayakan oleh kebanyakan orang, perayaan tahun baru inilah yang paling saya tidak mengerti. Apa yang sebenarnya dirayakan pada perhitungan mundur itu. Apa yang sebenarnya di peringati pada pergantian detik di tahun yang berbeda. Sama saja bukan, apa yang secara jelas-jelas membedakan pergantian tahun. Kalau ada yang bisa menjelaskan kepada saya maka dengan sangat senang saya akan mendengarkan ceritanya.

Yang saya bingungkan adalah;

  • Apa yang terjadi, siapa yang lahir, siapa yang melakukan perjalanan, ada momen hebat apa, ada serangan apa di tanggal 31 desember dan 1 januari jam 24.00 dan jam 00.00 dalam buku sejarah.
  • Bumi sepertinya tidak tercipta pada 1 januari 0000.
  • 1 januari ada setelah manusia bersatu untuk mendeklarasikan awal sebuah tanggalan.
  • Jalanan jadi macet, orang-orang membahayakan orang lain dengan memasang petasan segede alaihim gambreng di tengah jalan.
  • Kenapa juga saya harus begadang pada saat itu. Padahal di hari libur lainnya saya juga masih bisa begadang bukan.
  • “Hebat! Tahun baru ini gw bisa sadar.”
  • Kenapa terompet hanya muncul pada saat tahun baru, memang dihari-hari biasa atau diperayaan lain terompet tidak bisa begitu menjamur.
  • "Itu terompet pasti waktu dibikinnya pasti dicoba-coba dulu kan sama abangnya.".

Tahun baru ini saya hanya tidur di sofa setelah selesai membaca buku, jam 19.30. Terbangun pada pukul 00.30 itu juga karena ibu saya membangunkan saya hanya karena tertulis 3 missed calls di handphone saya. Hee??? bukan untuk merayakan new year’s eve countdown … Apakah bisa saya melakukan hitungan mundur, meniup terompet, mencoba untuk begadang, memasang kembang api atau petasan, pesta gila-gilaan diiringan dengan mabu’-mabu’an, bukan pada pergantian tahun melainkan pada pergantian hari, semisal rabu ke kamis.

Intinya apa, kurang lebih seperti ini;
2005,2006 + 2006,2007 = senin,selasa + selasa,rabu

Menurut saya yang patut dirayakan bila rumusan itu berubah menjadi seperti ini;
2005,2007 + 2006,2005 = senin,rabu + selasa,senin

Intinya sebenarnya apa, kurang lebih seperti ini; saya bingung, bingung, tidak tahu apa yang harus dipikirkan

Tetap semangat menghadapi hitungan mundur. Dan tetaplah mengkhayal.