
Monday, August 3, 2009
Dasar Orang-orang Ga Punya Jati Diri!

Tuesday, July 28, 2009
Jalanan Adalah Kehidupan

Bagi saya bus kota adalah salah satu tempat terbaik untuk digelarnya sebuah festival musik. Pasalnya, seringkali saya menemui musisi-musisi jalanan yang daya tampilnya luar biasa, baik dari segi kualitas vokal, keahlian memainkan alat musik sampai kecanggihan dalam aksi liuk-liku, gerak tubuh.
Mengapa saya bilang festival musik?
Penjelasannya kurang lebih seperti ini. Setahu saya, yang namanya festival musik biasanya terdiri dari berbagai macam performer. Nah, serupa kan. Di dalam bus kota sudah pasti musisi yang tampil itu berbagai macam. Jadi wajarlah kalau saya bilang ini adalah salah satu festival musik.
Baru saja saya membuktikan kembali pernyataan yang saya buat di atas. Sebuah pagelaran festival musik yang menurut saya luar biasa atau setidaknya dapat menghibur perjalanan pulang saya.
Dan tadi bukanlah kali pertama saya merasakan festival musik bus kota yang ciamik. Seperti yang saya sudah tuliskan tadi, sebenarnya banyak musisi-musisi jalanan yang mungkin keahliannya serupa atau bahkan bisa saya pastikan bahwa kemampuan dan keahlian mereka dalam membawakan lagu melebihi musisi-musisi yang berseliweran di teve. Lebih, karena penjiwaan mereka maksimal. Lebih, karena mereka mengasah kemampuan dengan otodidak (mungkin lho karena kondisi mereka yang jauh dari kata mewah). Lebih, karena mereka tampil apa adanya--tanpa efek, tanpa mixer.
Seperti yang tadi saya alami.
Tadi, ketika saya baru saja duduk di dalam bus, festival dimulai dengan seorang musisi jalanan yang bermodalkan alat musik okulele. Hanya saja untuk musisi abal-abal yang satu ini, dia masih jauh dari kata bagus dan saya sebenarnya membenci musisi yang tampil pertama kali tadi. Musisi jalanan pertama tampil dengan menggendong anak bayi dan ini membuat saya amat kesal namun tidak bisa berbuat apa-apa. Saya merasa kasihan dengan bayi tersebut dan saya merasa jengkel dengan musisi yang menggendongnya.
Sudahlah saya rasa musisi pertama ini disingkirkan saja, karena secara performa dia juga tidak ada bagus-bagusnya (sotoy juga gua bak kritikus musik ternama aja).
Lanjut ke Musisi kedua.
Musisi kedua ini seringkali saya temui jika menaiki AC76. Cuman bedanya, tadi dia sedikit beralih dari penampilan biasanya. Kalau yang lalu-lalu-lalu-lalu dia tampil hanya dengan secarik kertas untuk membawakan puisi, tadi dia tampil dengan sebuah gitar untuk membawakan beberapa lagu.
Dia pun menuju area pertunjukan, bus runaway stage biar lebih canggihnya. Seperti biasa kalimat pembuka pun dia lontarkan.
"Selamat malam... bla... bla... Saya merasa kasihan dengan bocah yang tadi. Tidak pantas dia dibawa-bawa ngamen. Itu saya, entah anda-anda sekalian." ucap sang musisi menanggapi performer sebelum dia.
Setelah memberikan beberapa patah kata, dia memulai aksinya. Dengan suara khas yang serak dia bernyanyi tentang Indonesia. Nada, lantunan, dan melodinya saya coba simak dengan baik. Saya merasa terhibur selain karena lagunya yang nikmat juga terhibur dengan semangat nasionalimenya.
Mungkin kalau saya benar-benar berada di panggung pertunjukan, saya akan memberikan applause kepadanya setiap dia selesai bernyanyi. Penghayatannya bagus, berkali-kali dia memejamkan mata untuk mendapatkan jiwa lagu yang ia bawakan.
Setelah dia bawakan dua lagu dengan durasi yang cukup panjang, diberikan lah kata-kata penutup olehnya. Sopan dan tidak menakutkan kata penutupnya. Perkataannya membuat saya merasa aman, jauh dari rasa takut akan penjahat yang suka berkeliaran di atas bus kota. Dia bahkan mengingatkan kepada seluruh penumpang agar tetap waspada dan jangan mudah terkecoh dengan penampilan luar seseorang karena bisa saja seseorang itu adalah seorang penjahat.
Musisi yang satu itu, menurut saya memang benar-benar seorang yang baik. Pasalnya, beberapa saat sebelum tadi dia juga pernah mengingatkan penumpang akan hal yang serupa. Beda halnya dengan musisi jalanan yang pernah saya temui di bus metro mini 72.
Kalau yang saya temui di metro mini 72 itu, si musisi tampak sangat urakan dan kasar. Hal itu saya dibuktikan oleh dirinya sendiri yang ketika ngedumel ia melontarkan kata, "Ko*&$l!!!" Mungkin kata itu terlontar karena dia kesal tidak ada penumpang yang memberinya uang, si salah satu musisi 72 tersebut. Tapi kan tidak semestinya juga.
Kembali ke AC 76. Sesampainya di blok m, musisi kedua tukar posisi dengan musisi berikutnya. Kali ini dua orang sekaligus yang tampil di bus runaway stage. Satu berperawakan tambun, satu lagi berperawakan kurus kerempeng. Mereka berdua masing-masing memegang satu gitar.
"Selamat malam, mungkin tadi anda-anda sekalian sudah dihibur dengan rekan saya. Kini saatnya kami menghibur anda." ujar sang pria tambun.
Mereka pun memulai lagu pertamanya. Baru saja awal-awal lagu, saya sudah merasa terkagum-kagum dengan mereka. Pasalnya, mereka memulai lagu dengan tarikan-tarikan melodi serta rhythm yang saling padu padan. Bunga Seroja lah yang mereka bawakan.
Si musisi tambun tampaknya jadi lead vocal dan si musisi kurus kerempeng jadi lead gitar serta backing vocal.
Si musisi tambun ini tampak sangat menikmati permainannya, membuat dia bergerak-gerak mengikuti irama lagu. Beruntung bus runaway area sedang tidak ramai, jika ramai mungkin sudah banyak orang yang jidadnya terantuk oleh neck guitar dia.
Sama seperti musisi yang kedua, si tambun pun berkali-kali memejamkan matanya untuk menghayati, untuk menjiwai musik tersebut. Suaranya melengking dengan volume yang keras. Sementara di sisinya, si kurus kerempeng di beberapa kesempatan ikut menyumbangkan suara untuk mendapatkan nada harmoni.
Si kurus tidak berhenti sampai di situ saja. Dia juga tidak mau kalah dengan si tambun. Dia tunjukan keahliannya dalam memetik gitar. Melodi-melodi yang--menurut saya si musisi kacangan--syuulit dia tampilkan kepada penumpang bus yang ada. Saya... Ya terpukau lah. Jago dia! dan setelah diingat-ingat, ternyata saya pernah melihat dia sebelumnya. Memang si kurus ini memiliki keahlian yang luar biasa.
Mata saya kembali mengarah ke si tambun yang asyik memejamkan mata, berteriak dan bergerak sesuai irama. Tidak beberapa lama kemudian terdengar suara, "Pletaaak!!!" Ternyata sangking bersemangatnya si tambun dalam memetik gitar, sampai-sampai salah satunya senarnya putus. Namun kejadian itu tidak membuat dia berhenti bermain. Terus saja dia bermain sampai lagunya habis.
Satu hal lagi yang saya suka dari mereka adalah aransemen lagunya. Beuh! Canggih beeut mereka, pake aransemen lagu segala. Bahkan menurut saya aransemen lagu mereka membuat lagu aslinya jadi terasa lebih hidup dan enak untuk dinikmati. Sekali lagi ingin rasanya saya bertepuk tangan cuman ya malu aja di bus tiba-tiba saya tepuk tangan sendiri. Alhasil, saya hanya menepuk-nepukkan jari ke tas sebagai gantinya tepuk tangan.
Mungkin ya, suatu saat nanti ada promotor musik yang terinspirasi dengan musisi-musisi jalanan tersebut. Mengadakan suatu pagelaran musik yang bertema "ngamen dalam bus". Isinya kurang lebih sama seperti yang biasa ada dalam bus kota. Hanya saja, para pengisi acaranya adalah artis-artis lawas dari Indonesia maupun luar Indonesia. Beeeuh bukan maen ciamik kan kalo udah gitu.
Jika memang ada, saya berharap saya dapat ikut serta dalam acara tersebut, karena saya dulu juga pernah merasakan tampil dalam bus kota. Tampil abal-abal, kacangan, payah.
Sekali lagi dan memang jika ada, mungkin harus ada beberapa tempat yang memang menampilkan musisi jalanan untuk beraksi di puluhan ribu penonton yang hadir. Bussseeeet!!!!
Jadi teringat sepenggal lirik yang pernah dibawakan oleh salah satu musisi jalan dan menurut saya liriknya itu bagus.
"Jalanan bukan pelarian, jalanan bla...bla... bla..., jalanan adalah kehidupan."
Sunday, July 26, 2009
Luar Rapuh Dalem Rapuh
Bagaimana caranya biar seseorang dapat diingat oleh banyak orang?Kalau di pandangan saya sih ada dua jawaban. Pertama, bikin sesuatu yang hebat luar-biasa-canggihnya. Lalu yang kedua adalah punya karakter diri yang kuat-bak baja tekbal-perkasa bak tembok China.
Lalu apakah saya sudah dapat diingat oleh banyak orang?
Beuh! putus karena masalah prinsip. Saya rasa itu adalah salah satu contoh orang dengan karakter yang kuat. Ya, setidaknya kekerasan hati dan pemikirannya dapat dikatakan kuat. Padahal waktu itu saya dan teman saya itu masih duduk di bangku SMA lho...
Jadi terlintas pembicaraan beberapa waktu yang lalu dengan salah seorang teman di messenger. Kala itu saya sedang berbicara tentang ajang festival rock yang akan diadakan beberapa saat lagi. Setelah mengetahui bahwa nanti akan ada Mr. Big, saya langsung teringat oleh salah satu teman saya lagi yang menurut saya juga berkarakter kuat.
Setelah saya menjelaskan secara rinci tentang siapa itu Agus BS, teman saya langsung menyadari keberadaannya. Karakter orang yang kami bicarakan itu, menurut saya cukup kuat. Pasalnya, ya karena tadi itu, karena karakter dia itu asal muasal kata BS atau yang dikenal sebagai Bullshit alias Bokis jadi. Kalau teman saya yang satu itu sudah bicara, wuiih fantasinya liar kemana-mana.
Tuesday, June 30, 2009
The Beatles Rockband, The Rivers? Soon...
Mereka sih selalu menjadi idola saya, bahkan mungkin idola Anda juga. Sulit rasanya bagi saya untuk tidak menyukai karya-karya mereka dan ingin rasanya saya membuat karya yang tidak mirip dengan mereka tapi lebih dari mereka.
Mungkin saya bisa memulainya dengan apa yang saya bisa saja, menulis.
Videonya bagus dan animasinya bagus. Saya ingin berkomentar tentang nilai seni tapi belum berani ah. Saya hanya mau komentar tentang The Beatles Rockband sajalah. Setahu saya The Beatles Rockband ini adalah salah satu video game yang nanti akan di rilis pada, bilangnya apa ya kuarter ketiga tahun ini kali ya. Ya, isinya tentu lagu-lagunya The Beatles lah bukan The Rivers--kalau yang ini band saya yang tidak akan bubar seumur hidup hanya vakum untuk seumur hidup.
Saya menantikan rilisan video game ini.
Monday, June 29, 2009
Paris Hilton Versus Agus Tulip

Teman saya menyampaikan kalimat tanya tersebut ketika saya dan teman-teman yang lain membicarakan tentang tragedi di Situ Gintung. Saya bingung mengapa tiba-tiba teman saya yang terkenal dengan gaya urakannya ini bertanya tentang Asri. Memangnya ada apa dengan Asri?
Dia kemudian melanjutkan, "Hahahaha mestinya Asri itu yang rata!!!"
Saya berpikir kembali hah? Asri, Rata?
"Itu tempat kan maksiat banget. Hahahahah!"
Setelah mendengar kata maksiat baru lah saya sadar kemana arah dari pembicaraan teman saya itu. Hotel Asri di kawasan dekat rumah saya.
Hotel Asri memang salah satu hotel di kawasan dekat rumah saya yang bertahan sangat lama. Padahal kalau saya lewati hotel ini setiap harinya, saya seperti melihat hotel yang sudah bangkrut. Tapi itu hanya tampilan luarnya saja. Buktinya Hotel Asri ini masih tetap buka. Hotel ini adalah salah satu hotel yang kami duga sebagai tempat "saya tidak tahu itu apa" terselubung. Hotel tempat mereka yang senang "saya tidak tahu itu apa" menginap.
Pernah pada suatu masa--saya sebut masa karena memang hanya beberapa saat saja--ada seorang wanita yang mangkal di depan hotel ini. Pada awalnya saya mengira bahwa wanita itu adalah seorang penumpang yang sedang menunggu angkutan umum. Tapi kok hampir setiap malam. Hingga akhirnya saya menduga bahwa wanita itu adalah seorang wanita tuna susila yang sedang menjajakan dirinya.
Mengapa saya sampai hati memberikan dugaan tersebut? Pasalnya, saya seringkali melihat wanita itu berbicara dengan pengendara motor di setiap harinya dan setiap hari itu dengan pengendara yang berbeda. Hal ini kemudian disetujui oleh beberapa teman saya yang menduga hal serupa dengan saya.
Cukup tentang wanita tersebut, kembali ke Hotel Asri.
Hotel Asri mungkin salah dari hotel yang menyuguhkan fasilitas khusus saya "tidak tahu itu apa". Jujur saya pernah menginap di salah satu hotel khusus itu, tetapi bukan yang ada di Jakarta melainkan di Surabaya (canggih juga ya melanglang buana ke hotel khusus hingga ke Surabaya). Waktu itu saya menginap bersama teman-teman saya sehabis kami menyelesaikan pendakian ke Gunung Semeru.
Waktu itu kami ditemani kakak saya mencari-cari hotel yang murah dan dekat dengan stasion kota Surabaya. Alhasil setelah berputar-putar dan bertanya-tanya kami pun diantarkan oleh beberapa tukang becak ke hotel tersebut. Kami diantarkan sampai ke depan lobby hotel. Beruntung Surabaya adalah kota yang hampir tidak bisa kami singgahi, jadi kami semua tidak merasa malu sama sekali. Kalau saja di Jakarta mungkin saya dan teman-teman saya akan menutup muka semua untuk mengatasi rasa malu. Oh iya, waktu itu saya tidak ikut menaiki becak karena saya diantar oleh kakak saya dengan mobil.
Kami pun memesan dua kamar. Resepsionis hotel memberikan kami kunci kamar lalu kami berjalan menuju kamar yang dimaksud. Di dalam kamar, kami semua tertawa cekikikan melihat keadaan kamar yang amburadul. Belum lagi dengan banyaknya noda yang tidak jelas di atas sprei, di dinding dan di lantai. Kami semua jijik dengan keadaan kamar itu, belum lagi dengan keadaan kamar mandinya, widiiih... Yaa tapi mau bagaimana lagi, uang tidak banyak dan hotel ini dekat dengan stasion, ya sudah lah kami terima keadaan ini.
Saya kemudian diajak kakak saya ke rumah teman ayah saya yang dijadikan tempat tinggal kakak saya di Surabaya.
"Waah hebat, gimana sampe puncak ga?" tanya teman ayah saya.
"Sampe Oom..."
"Ya sudah kamu istirahat di sini."
"Wah saya udah dapet hotel Oom..."
"Hotel dimana?"
"Di Pasar Besar itu Oom, yang deket stasion kota."
Teman ayah saya mendadak berubah mimik mukanya. Dia kaget mendengar jawaban saya.
"Waah... di hotel itu... waah... udah di sini aja..." jawabnya yang seperti menjelaskan bahwa hotel yang saya akan tempati itu adalah hotel yang untuk "saya tidak tahu itu apa".
Karena tidak enak dengan teman-teman saya, ajakan ramah teman ayah saya itu terpaksa saya tolak. Akhirnya saya hanya menumpang mandi dan kemudian kembali ke hotel. Karena rasa lelah yang luar biasa akhirnya kami semua bisa tidur dengan nyenyak. Baru pada keesokan harinya, kami seakan-akan tersadar HAH! HOTEL APA INI! HIDIHHH ITU DI DINDING APAAN!
Banyak memang hotel seperti itu, sampai-sampai juga ada di Surabaya.
Kalau di Jakarta katanya--supaya tetap dinilai baik oleh orang-orang--lebih banyak terlebih lagi di daerah Jakarta Pusat dan Jakarta Utara. Ya saya tidak tahu secara detail lokasi dan nama-namanya.
Saya mengetahui beberapa tempat yang serupa--cuman tahu aja lhoo. Bila kita jalan-jalan ke daerah Cilandak, ada dua tempat yang saya tahu serupa dengan hotel Asri. Sebutlah Hotel Hill Side dan Hotel Pondok Wisata. Lalu kalau berjalan lebih jauh lagi ke daerah Kebayoran Baru, kita akan bertemu--ini lebih terkenal lagi--Hotel Tulip.
Saking terkenalnya hotel tersebut, sampai-sampai teman saya pun sering mengejek teman saya yang lain dengan, "Lo tahu Paris Hilton kan, Kalo dia nih Agus--nama disamarkan hehehe--Tulip! Saingan tuh sama Hilton!!!"
Sunday, June 28, 2009
Thursday, January 4, 2007
Saya Suka Nia Dinata
Pertanyaannya adalah kenapa?
Jawabannya, menurut saya jujur saja secara fisik dia menarik dan sudah pasti cantik. Karena kulitnya yang putih, rambutnya yang hitam dan kacamata yang menempel pada matanya. Sebuah perpaduan wujud fisik sempurna di mata saya. Memang itu bisa dikatakan sebagai kriteria standar pria melirik perempuan, tapi setidaknya saya bisa jujur bahwa yang membuat pria, lebih khusus lagi saya, melirik pasti dikarenakan keadaan fisik, bohong kalau ada yang berkata, “karena kepribadian saya bisa melirik perempuan”. Shit cat… Bagaimana caranya kepribadian bisa menarik perhatian, jika kepribadian itu belum pernah berkenalan dengan tangan kita? Fisik adalah utama!
Benih-benih ketertarikan fisik bereskalasi menjadi sebuah tindakan saya. Tindakan selanjutnya adalah jawaban dari rasa penasaran saya terhadap dia yaitu berusaha membuka percakapan dengannya. Untuk sekedar menggoda atau mungkin bisa lebih dari itu. Awalnya saya sangat takut untuk memulai tapi dengan prinsip it’s now or never akhirnya saya bisa membuka dan melakukan percakapan dengan menggunakan medium dunia maya. Berterima kasihlah saya pada kemajuan teknologi yang memungkinkan saya untuk bergerak.
Hambar dan kaku menyambut pergerakan pertama. Saya bertanya lalu dia menjawab apa adanya. Sedikit sekali kata-kata yang dia ucapkan. Tidak pernah dia mengeluarkan kata tanya dari mulut, tangan dan hatinya. Sangat-sangat tertutup dan pendiam, dasar selebritis. Yang membuat saya bingung adalah alur di etape awal ini bergerak sangat lamban dan dalam periode waktu yang cukup panjang. Wajar, karena dia juga tidak banyak tahu tentang saya walaupun secara formal kami sudah saling berkenalan atau bilang saja saling tahu. “Tidak pernah berbicara dan sepertinya bertegur sapa juga jarang.”
Rasa penasaran dan rasa suka membombardir isi kepala saya menyebabkan saya ingin terus berusaha membuat percakapan yang maksimal. Usaha demi usaha terus mengalir dari niat saya hingga akhirnya saya mendapatkan titik temu untuk menuju percakapan yang menarik. Kunci yang saya pikir tidak akan pernah saya dapatkan. Khayalan lah yang membuat perubahan pada dialog saya dengan dia. Semenjak itu saya senang dan girang karena tembok kekakuan sedikit demi sedikit bisa saya kunyah dan hancurkan. Dia mulai mengirimkan pertanyaan pada saya.
Dari dunia maya saatnya merambah ke dunia pergulatan ibu jari atau pesan-pesan singkat. Orang bilang, bila seseorang sudah berani mengirimkan pesan singkat dengan konteks isi yang menanyakan keadaan, maka tingkat pendekatan akan meninggi. Saya anggap itu sebagai sesuatu yang benar, karena untuk membalas pesan yang kita sampaikan seseorang rela mengeluarkan digit-digit pulsa, mengeluarkan biaya. Kembali lagi, sebuah awal menjadi suatu hal yang sangat menakutkan bagi saya. Ketakutan pesan saya tidak berbalas dan ketakutan dia akan bercerita pada teman-temannya. Setelah lama berpikir, akhirnya pesan itu terkirim dan saatnya untuk menunggu balasan darinya. “Lama… kok tidak ada balasan… lihat waktu baru satu menit… tapi kok terasa sangat lama…” Tiba-tiba ada getaran dan ada suara. Lihat dari siapa… dan wohohoho pesan terbalas. Manfaatkan momen ini dengan sebaik-baiknya. Terus kirim pesan, berusaha agar dia mengatakan kalimat tanya… tapi…susah… sama seperti pertemuan dunia maya di periode awal. Ternyata semua memang ada prosesnya, tidak bagus dan tidak seru juga kalau sifat instan menyelimuti. Pantang mundur dan selanjutnya tidak tertebak, pertanyaan walaupun sedikit akhirnya terlontar juga dari dia untuk saya.
Serangan lebih intensive dengan melebarkan sayap memanfaatkan penemuan dari Alexander Graham Bell = Telepon. Mendengarkan suaranya dengan notasi-notasi yang sopan dan lembut sekali pasti akan sangat-sangat menenangkan hati. Kali ini awal pembicaraan adalah tentang masa kecil. Dia pun bercerita banyak dan mulai mempercayakan saya untuk mendengarkan aib-aib masa kecilnya. Bukan aib juga menurut saya tapi biarlah yang penting pembicaraan mengalir. Dalam hati berkata, “ini adalah progres yang baik”. Terlebih lagi, cara saling bercengkrama tukar suara ini lebih bisa membuka pintu kepribadiannya hingga saya katakan, ”Ga nyangka ternyata Anda berbeda dan you’re a woman with a splendid character.”. Bodohnya saya adalah kenapa saya hanya bisa menelepon saja, tidak pernah berani untuk mengajaknya kencan. Ini adalah salah satu kelemahan saya sebagai seorang rumahan yang jarang mengenal tempat-tempat kencan yang baik. Satu lagi ketakutan dan ketidak beranian yang ada dalam diri ini adalah “Jika saja saya bisa memenangkan sayembara kencan bersama dia apakah para penggemarnya akan merasa jengkel dan marah kepada saya lalu mengatakan saya ini pengkhianat?”. Tapi lambat laun saya usir semua aura negatif itu dan saya pun mulai mengetahui tempat yang bagus dan sudah merencanakan waktu serta tempat yang tepat. Sayangnya…Kelamaan! Pesan mulai dibalas dikemudian hari… Pesan mulai tidak berbalas... Lihat ke depan rumahnya terpampang papan alamat yang tertulis in a relationship street number 22, Jakarta, Indonesia.
Sudah lah memang seorang selebritis tempat tinggalnya bukan di bumi melainkan di bintang. Teknologi mungkin bisa mencapai tempat tinggalnya tetapi kaki ini tidak bisa berjalan melewati batas. Mendaki gunung saja lelahnya bukan main, apalagi loncat ke bintang. Tidak akan mungkin! Dan saya juga kurang berteknologi.
Sekarang saya hanya bisa berkata, “Mba Nia Dinata, terima kasih atas obrolan yang menarik, terima kasih atas semua pertanyaan yang diajukan kepada saya, terima kasih telah bisa memberikan kepercayaan kepada saya, dan terima kasih membuat saya merasa bahwa Mba Nia Dinata sedikit tertarik pada saya. Walau pada akhirnya entah kosmonot atau astronot yang sangat hebat mana telah sampai terlebih dahulu di hunian Anda. Tapi walau begitu masih bisakah saya menjadi salah satu cast dari film dokumenter tentang biografi Anda. Jika masih, boleh kah saya berperan menjadi ….”
Apa intinya, kurang lebih seperti ini; Ragu-ragu + cupu + kurang pergaulan + kelamaaan !!!! = selamat tinggal mimpi, bangun…bangun…hari sudah siang.
Tetap semangat (menghadapi) selebritis selanjutnya. Dan tetaplah mengkhayal.