Tuesday, June 30, 2009

The Beatles Rockband, The Rivers? Soon...

Mereka sih selalu menjadi idola saya, bahkan mungkin idola Anda juga. Sulit rasanya bagi saya untuk tidak menyukai karya-karya mereka dan ingin rasanya saya membuat karya yang tidak mirip dengan mereka tapi lebih dari mereka.

Mungkin saya bisa memulainya dengan apa yang saya bisa saja, menulis.

Videonya bagus dan animasinya bagus. Saya ingin berkomentar tentang nilai seni tapi belum berani ah. Saya hanya mau komentar tentang The Beatles Rockband sajalah. Setahu saya The Beatles Rockband ini adalah salah satu video game yang nanti akan di rilis pada, bilangnya apa ya kuarter ketiga tahun ini kali ya. Ya, isinya tentu lagu-lagunya The Beatles lah bukan The Rivers--kalau yang ini band saya yang tidak akan bubar seumur hidup hanya vakum untuk seumur hidup.

Saya menantikan rilisan video game ini.

Monday, June 29, 2009

Paris Hilton Versus Agus Tulip


"Asri apa kabarnya tuh???" tanya seorang teman dengan diiringi gelak tawa yang membahana di warung indomie bilangan mahakam.

Teman saya menyampaikan kalimat tanya tersebut ketika saya dan teman-teman yang lain membicarakan tentang tragedi di Situ Gintung. Saya bingung mengapa tiba-tiba teman saya yang terkenal dengan gaya urakannya ini bertanya tentang Asri. Memangnya ada apa dengan Asri?

Dia kemudian melanjutkan, "Hahahaha mestinya Asri itu yang rata!!!"

Saya berpikir kembali hah? Asri, Rata?

"Itu tempat kan maksiat banget. Hahahahah!"

Setelah mendengar kata maksiat baru lah saya sadar kemana arah dari pembicaraan teman saya itu. Hotel Asri di kawasan dekat rumah saya.

Hotel Asri memang salah satu hotel di kawasan dekat rumah saya yang bertahan sangat lama. Padahal kalau saya lewati hotel ini setiap harinya, saya seperti melihat hotel yang sudah bangkrut. Tapi itu hanya tampilan luarnya saja. Buktinya Hotel Asri ini masih tetap buka. Hotel ini adalah salah satu hotel yang kami duga sebagai tempat "saya tidak tahu itu apa" terselubung. Hotel tempat mereka yang senang "saya tidak tahu itu apa" menginap.

Pernah pada suatu masa--saya sebut masa karena memang hanya beberapa saat saja--ada seorang wanita yang mangkal di depan hotel ini. Pada awalnya saya mengira bahwa wanita itu adalah seorang penumpang yang sedang menunggu angkutan umum. Tapi kok hampir setiap malam. Hingga akhirnya saya menduga bahwa wanita itu adalah seorang wanita tuna susila yang sedang menjajakan dirinya.

Mengapa saya sampai hati memberikan dugaan tersebut? Pasalnya, saya seringkali melihat wanita itu berbicara dengan pengendara motor di setiap harinya dan setiap hari itu dengan pengendara yang berbeda. Hal ini kemudian disetujui oleh beberapa teman saya yang menduga hal serupa dengan saya.

Cukup tentang wanita tersebut, kembali ke Hotel Asri.

Hotel Asri mungkin salah dari hotel yang menyuguhkan fasilitas khusus saya "tidak tahu itu apa". Jujur saya pernah menginap di salah satu hotel khusus itu, tetapi bukan yang ada di Jakarta melainkan di Surabaya (canggih juga ya melanglang buana ke hotel khusus hingga ke Surabaya). Waktu itu saya menginap bersama teman-teman saya sehabis kami menyelesaikan pendakian ke Gunung Semeru.

Waktu itu kami ditemani kakak saya mencari-cari hotel yang murah dan dekat dengan stasion kota Surabaya. Alhasil setelah berputar-putar dan bertanya-tanya kami pun diantarkan oleh beberapa tukang becak ke hotel tersebut. Kami diantarkan sampai ke depan lobby hotel. Beruntung Surabaya adalah kota yang hampir tidak bisa kami singgahi, jadi kami semua tidak merasa malu sama sekali. Kalau saja di Jakarta mungkin saya dan teman-teman saya akan menutup muka semua untuk mengatasi rasa malu. Oh iya, waktu itu saya tidak ikut menaiki becak karena saya diantar oleh kakak saya dengan mobil.

Kami pun memesan dua kamar. Resepsionis hotel memberikan kami kunci kamar lalu kami berjalan menuju kamar yang dimaksud. Di dalam kamar, kami semua tertawa cekikikan melihat keadaan kamar yang amburadul. Belum lagi dengan banyaknya noda yang tidak jelas di atas sprei, di dinding dan di lantai. Kami semua jijik dengan keadaan kamar itu, belum lagi dengan keadaan kamar mandinya, widiiih... Yaa tapi mau bagaimana lagi, uang tidak banyak dan hotel ini dekat dengan stasion, ya sudah lah kami terima keadaan ini.

Saya kemudian diajak kakak saya ke rumah teman ayah saya yang dijadikan tempat tinggal kakak saya di Surabaya.

"Waah hebat, gimana sampe puncak ga?" tanya teman ayah saya.
"Sampe Oom..."
"Ya sudah kamu istirahat di sini."
"Wah saya udah dapet hotel Oom..."
"Hotel dimana?"
"Di Pasar Besar itu Oom, yang deket stasion kota."

Teman ayah saya mendadak berubah mimik mukanya. Dia kaget mendengar jawaban saya.

"Waah... di hotel itu... waah... udah di sini aja..." jawabnya yang seperti menjelaskan bahwa hotel yang saya akan tempati itu adalah hotel yang untuk "saya tidak tahu itu apa".

Karena tidak enak dengan teman-teman saya, ajakan ramah teman ayah saya itu terpaksa saya tolak. Akhirnya saya hanya menumpang mandi dan kemudian kembali ke hotel. Karena rasa lelah yang luar biasa akhirnya kami semua bisa tidur dengan nyenyak. Baru pada keesokan harinya, kami seakan-akan tersadar HAH! HOTEL APA INI! HIDIHHH ITU DI DINDING APAAN!


Tapi walaupun begitu hotel itu menjadi kenangan bagi kami semua. Pernah suatu saat teman saya melewati kembali hotel tersebut karena dia sedang dinas di Surabaya. Karena saking kagumnya dengan keadaan kami waktu dahulu kala dia pun meng-sms saya, "Oi lu masih inget ga hotel yang di pasar besar itu! gue lagi ngelewatin nih! hahahah!"

Banyak memang hotel seperti itu, sampai-sampai juga ada di Surabaya.

Kalau di Jakarta katanya--supaya tetap dinilai baik oleh orang-orang--lebih banyak terlebih lagi di daerah Jakarta Pusat dan Jakarta Utara. Ya saya tidak tahu secara detail lokasi dan nama-namanya.

Saya mengetahui beberapa tempat yang serupa--cuman tahu aja lhoo. Bila kita jalan-jalan ke daerah Cilandak, ada dua tempat yang saya tahu serupa dengan hotel Asri. Sebutlah Hotel Hill Side dan Hotel Pondok Wisata. Lalu kalau berjalan lebih jauh lagi ke daerah Kebayoran Baru, kita akan bertemu--ini lebih terkenal lagi--Hotel Tulip.

Saking terkenalnya hotel tersebut, sampai-sampai teman saya pun sering mengejek teman saya yang lain dengan, "Lo tahu Paris Hilton kan, Kalo dia nih Agus--nama disamarkan hehehe--Tulip! Saingan tuh sama Hilton!!!"

Sunday, June 28, 2009

let's start it all over again

so this is the beginning.
one of my log pages...
the only one branch..

Thursday, January 4, 2007

Saya Suka Nia Dinata

Pernyataan itu sama sekali tidak dibuat-buat dan benar-benar terjadi pada diri saya. Secara terang-terangan dikeluarkan dari hati saya, tanpa basa-basi, tanpa rasa malu dan tanpa keraguan. Hal ini jarang saya alami, ini adalah kali pertama saya rasakan dan lakukan. Entah kenapa untuk kali ini, saya berani untuk bicara dengan lantang dan keras. Kalau saja bisa diteriakan melalui tulisan diatas secarik kertas maya, sudah pasti saya akan berteriak hingga mengeluarkan gema.

Pertanyaannya adalah kenapa?

Jawabannya, menurut saya jujur saja secara fisik dia menarik dan sudah pasti cantik. Karena kulitnya yang putih, rambutnya yang hitam dan kacamata yang menempel pada matanya. Sebuah perpaduan wujud fisik sempurna di mata saya. Memang itu bisa dikatakan sebagai kriteria standar pria melirik perempuan, tapi setidaknya saya bisa jujur bahwa yang membuat pria, lebih khusus lagi saya, melirik pasti dikarenakan keadaan fisik, bohong kalau ada yang berkata, “karena kepribadian saya bisa melirik perempuan”. Shit cat… Bagaimana caranya kepribadian bisa menarik perhatian, jika kepribadian itu belum pernah berkenalan dengan tangan kita? Fisik adalah utama!

Benih-benih ketertarikan fisik bereskalasi menjadi sebuah tindakan saya. Tindakan selanjutnya adalah jawaban dari rasa penasaran saya terhadap dia yaitu berusaha membuka percakapan dengannya. Untuk sekedar menggoda atau mungkin bisa lebih dari itu. Awalnya saya sangat takut untuk memulai tapi dengan prinsip it’s now or never akhirnya saya bisa membuka dan melakukan percakapan dengan menggunakan medium dunia maya. Berterima kasihlah saya pada kemajuan teknologi yang memungkinkan saya untuk bergerak.

Hambar dan kaku menyambut pergerakan pertama. Saya bertanya lalu dia menjawab apa adanya. Sedikit sekali kata-kata yang dia ucapkan. Tidak pernah dia mengeluarkan kata tanya dari mulut, tangan dan hatinya. Sangat-sangat tertutup dan pendiam, dasar selebritis. Yang membuat saya bingung adalah alur di etape awal ini bergerak sangat lamban dan dalam periode waktu yang cukup panjang. Wajar, karena dia juga tidak banyak tahu tentang saya walaupun secara formal kami sudah saling berkenalan atau bilang saja saling tahu. “Tidak pernah berbicara dan sepertinya bertegur sapa juga jarang.”

Rasa penasaran dan rasa suka membombardir isi kepala saya menyebabkan saya ingin terus berusaha membuat percakapan yang maksimal. Usaha demi usaha terus mengalir dari niat saya hingga akhirnya saya mendapatkan titik temu untuk menuju percakapan yang menarik. Kunci yang saya pikir tidak akan pernah saya dapatkan. Khayalan lah yang membuat perubahan pada dialog saya dengan dia. Semenjak itu saya senang dan girang karena tembok kekakuan sedikit demi sedikit bisa saya kunyah dan hancurkan. Dia mulai mengirimkan pertanyaan pada saya.

Dari dunia maya saatnya merambah ke dunia pergulatan ibu jari atau pesan-pesan singkat. Orang bilang, bila seseorang sudah berani mengirimkan pesan singkat dengan konteks isi yang menanyakan keadaan, maka tingkat pendekatan akan meninggi. Saya anggap itu sebagai sesuatu yang benar, karena untuk membalas pesan yang kita sampaikan seseorang rela mengeluarkan digit-digit pulsa, mengeluarkan biaya. Kembali lagi, sebuah awal menjadi suatu hal yang sangat menakutkan bagi saya. Ketakutan pesan saya tidak berbalas dan ketakutan dia akan bercerita pada teman-temannya. Setelah lama berpikir, akhirnya pesan itu terkirim dan saatnya untuk menunggu balasan darinya. “Lama… kok tidak ada balasan… lihat waktu baru satu menit… tapi kok terasa sangat lama…” Tiba-tiba ada getaran dan ada suara. Lihat dari siapa… dan wohohoho pesan terbalas. Manfaatkan momen ini dengan sebaik-baiknya. Terus kirim pesan, berusaha agar dia mengatakan kalimat tanya… tapi…susah… sama seperti pertemuan dunia maya di periode awal. Ternyata semua memang ada prosesnya, tidak bagus dan tidak seru juga kalau sifat instan menyelimuti. Pantang mundur dan selanjutnya tidak tertebak, pertanyaan walaupun sedikit akhirnya terlontar juga dari dia untuk saya.

Serangan lebih intensive dengan melebarkan sayap memanfaatkan penemuan dari Alexander Graham Bell = Telepon. Mendengarkan suaranya dengan notasi-notasi yang sopan dan lembut sekali pasti akan sangat-sangat menenangkan hati. Kali ini awal pembicaraan adalah tentang masa kecil. Dia pun bercerita banyak dan mulai mempercayakan saya untuk mendengarkan aib-aib masa kecilnya. Bukan aib juga menurut saya tapi biarlah yang penting pembicaraan mengalir. Dalam hati berkata, “ini adalah progres yang baik”. Terlebih lagi, cara saling bercengkrama tukar suara ini lebih bisa membuka pintu kepribadiannya hingga saya katakan, ”Ga nyangka ternyata Anda berbeda dan you’re a woman with a splendid character.”. Bodohnya saya adalah kenapa saya hanya bisa menelepon saja, tidak pernah berani untuk mengajaknya kencan. Ini adalah salah satu kelemahan saya sebagai seorang rumahan yang jarang mengenal tempat-tempat kencan yang baik. Satu lagi ketakutan dan ketidak beranian yang ada dalam diri ini adalah “Jika saja saya bisa memenangkan sayembara kencan bersama dia apakah para penggemarnya akan merasa jengkel dan marah kepada saya lalu mengatakan saya ini pengkhianat?”. Tapi lambat laun saya usir semua aura negatif itu dan saya pun mulai mengetahui tempat yang bagus dan sudah merencanakan waktu serta tempat yang tepat. Sayangnya…Kelamaan! Pesan mulai dibalas dikemudian hari… Pesan mulai tidak berbalas... Lihat ke depan rumahnya terpampang papan alamat yang tertulis in a relationship street number 22, Jakarta, Indonesia.

Sudah lah memang seorang selebritis tempat tinggalnya bukan di bumi melainkan di bintang. Teknologi mungkin bisa mencapai tempat tinggalnya tetapi kaki ini tidak bisa berjalan melewati batas. Mendaki gunung saja lelahnya bukan main, apalagi loncat ke bintang. Tidak akan mungkin! Dan saya juga kurang berteknologi.

Sekarang saya hanya bisa berkata, “Mba Nia Dinata, terima kasih atas obrolan yang menarik, terima kasih atas semua pertanyaan yang diajukan kepada saya, terima kasih telah bisa memberikan kepercayaan kepada saya, dan terima kasih membuat saya merasa bahwa Mba Nia Dinata sedikit tertarik pada saya. Walau pada akhirnya entah kosmonot atau astronot yang sangat hebat mana telah sampai terlebih dahulu di hunian Anda. Tapi walau begitu masih bisakah saya menjadi salah satu cast dari film dokumenter tentang biografi Anda. Jika masih, boleh kah saya berperan menjadi ….”

Apa intinya, kurang lebih seperti ini; Ragu-ragu + cupu + kurang pergaulan + kelamaaan !!!! = selamat tinggal mimpi, bangun…bangun…hari sudah siang.

Tetap semangat (menghadapi) selebritis selanjutnya. Dan tetaplah mengkhayal.

Wednesday, January 3, 2007

Limaempattigaduasatu…

Bila ada seseorang yang menanyakan kepada saya tentang hari apa yang orang lain secara umum merayakan sementara saya tidak. Maka saya akan dengan lantang dan penuh kepastian menjawab perayaan tahun baru. Tidak ada perayaan khusus untuk menyambut pergantian tahun. Kalaupun ada, saya hanya memanfaatkan untuk momen kebersamaan dengan teman-teman saya yang merayakan. Tidak ada yang menarik dan spesial di hati saya saat jam menunjukkan 24.00 atau 00.00 semua berjalan sangat-sangat biasa.

Sebenarnya pada awal-awal saya juga memperingati datang tahun baru. Saat itu di pikiran saya bila tahun baru tidak dirayakan maka akan menjadikan saya sebagai orang paling aneh yang pernah ada di muka bumi.

Saya teringat ketika saya kecil, waktu itu ayah saya sering mengajak jalan menjelang pergantian tahun. Masih ada dalam ingatan saya, kami sekeluarga terjebak macet di jalan Gunung Sahari. Tujuan utama kami adalah daerah Ancol. Kami semua berniat untuk melihat pertunjukan kembang api. Sebagai anak kecil tentu saja saya senang dan ayah saya juga pasti akan senang melihat anaknya senang. Akhirnya berjalan lah kami menuju Ancol. Hasilnya, kami semua berhenti di tengah kemacetan dan menikmati kembang api Ancol di tengah jalan Gunung Sahari, setelah itu saya tidak ingat apa-apa lagi, mungkin karena setelah itu saya tertidur atau setelah itu tidak ada yang menarik untuk diingat saya juga tidak tahu.

Tidak lupa disetiap pergantian tahun ayah saya selalu membelikan dua terompet satu untuk saya dan satu lagi untuk kakak saya berhubung adik saya belum lahir atau dia masih sangat kecil. Terompet itu pun kami bunyikan di dalam mobil hingga saya, kakak saya, ibu saya dan ayah saya pun budek. Lalu di kemudian harinya kami memainkan terompet itu kembali…. di rumah.

Lalu sebagai anak kecil hal yang bisa dilakukan pada saat malam tahun baru adalah kuat-kuatan tidak tidur seharian atau begadang. Pada saat itu begadang adalah sesuatu yang sangat luar biasa bagi saya. Bila pada hari-hari saya dipaksa dan dengan senang hati tidur jam 21.00 maka, pada malam tahun baru tidak ada yang memaksa saya untuk tidur cepat dan niat saya untuk tidak tidur pada jam 2100 bertambah. Mungkin karena didukung juga dengan acara-acara yang ada di televisi jadi niat untuk begadang jadi semakin kuat. Lalu bila tanggal 1 januari telah datang saya selalu menanyakan pada saudara saya, “Loe kemaren tidur jam berapa? Begadang ga? Gw dong tidurnya baru pas jam 3 pagi.” Kalimat itu juga mengandung unsur bohong karena sebenarnya sampai jam 1 pun saya tidak bisa menahan ngantuk, cuma sekedar untuk ajang bangga-bangga dan sekedar menjaga gengsi anak-anak. Rasa ngantuk yang membahana di jam 1 kalah setelah sedemikian kuatnya saya berjuang untuk tetap melek tetapi tetap tidak bisa. Sebalnya saya adalah rasa ngantuk itu menjadi sangat santer ketika film yang ditayangkan di televisi disela dengan pidato dari presiden Republik Indonesia, saya lupa apa iya presiden atau menteri atau pejabat pemerintahan lainnya. Yang jelas kata-kata mereka membuat saya sangat, sangat, sangat mengantuk.

Setelah beberapa perayaan tahun baru dilewati akhirnya saya menyadari bahwa pesta perayaan ini tidak ada arti yang mendalam. Perubahan terjadi ketika teman saya berkata,”Jadi ini nih matahari di tahun baru, mana kok ga ada bedanya.” Teman saya itu sedang melihat matahari yang baru saja terbit dari jendela kamar hotel. Semenjak itu tahun baru bagi saya merupakan perjalanan hari-hari biasa. Saat itu adalah masa SMA.

Kesadaran saya itu tidak hanya muncul gara-gara kata-kata teman saya. Kesadaran itu muncul diperkuatkan oleh kebingungan saya. Bingung karena dari sekian banyak perayaan yang di rayakan oleh kebanyakan orang, perayaan tahun baru inilah yang paling saya tidak mengerti. Apa yang sebenarnya dirayakan pada perhitungan mundur itu. Apa yang sebenarnya di peringati pada pergantian detik di tahun yang berbeda. Sama saja bukan, apa yang secara jelas-jelas membedakan pergantian tahun. Kalau ada yang bisa menjelaskan kepada saya maka dengan sangat senang saya akan mendengarkan ceritanya.

Yang saya bingungkan adalah;

  • Apa yang terjadi, siapa yang lahir, siapa yang melakukan perjalanan, ada momen hebat apa, ada serangan apa di tanggal 31 desember dan 1 januari jam 24.00 dan jam 00.00 dalam buku sejarah.
  • Bumi sepertinya tidak tercipta pada 1 januari 0000.
  • 1 januari ada setelah manusia bersatu untuk mendeklarasikan awal sebuah tanggalan.
  • Jalanan jadi macet, orang-orang membahayakan orang lain dengan memasang petasan segede alaihim gambreng di tengah jalan.
  • Kenapa juga saya harus begadang pada saat itu. Padahal di hari libur lainnya saya juga masih bisa begadang bukan.
  • “Hebat! Tahun baru ini gw bisa sadar.”
  • Kenapa terompet hanya muncul pada saat tahun baru, memang dihari-hari biasa atau diperayaan lain terompet tidak bisa begitu menjamur.
  • "Itu terompet pasti waktu dibikinnya pasti dicoba-coba dulu kan sama abangnya.".

Tahun baru ini saya hanya tidur di sofa setelah selesai membaca buku, jam 19.30. Terbangun pada pukul 00.30 itu juga karena ibu saya membangunkan saya hanya karena tertulis 3 missed calls di handphone saya. Hee??? bukan untuk merayakan new year’s eve countdown … Apakah bisa saya melakukan hitungan mundur, meniup terompet, mencoba untuk begadang, memasang kembang api atau petasan, pesta gila-gilaan diiringan dengan mabu’-mabu’an, bukan pada pergantian tahun melainkan pada pergantian hari, semisal rabu ke kamis.

Intinya apa, kurang lebih seperti ini;
2005,2006 + 2006,2007 = senin,selasa + selasa,rabu

Menurut saya yang patut dirayakan bila rumusan itu berubah menjadi seperti ini;
2005,2007 + 2006,2005 = senin,rabu + selasa,senin

Intinya sebenarnya apa, kurang lebih seperti ini; saya bingung, bingung, tidak tahu apa yang harus dipikirkan

Tetap semangat menghadapi hitungan mundur. Dan tetaplah mengkhayal.