Tampaknya hari ini hari yang sangat melelahkan, kenapa begitu? Ya karena hari ini diawali dengan suatu hal yang menurut saya kurang enak di hati. Awal hari yang membuat jantung berdegup kencang. Bukan… bukan berdegup karena kehadirannya. Tapi berdegup kencang karena komentar-komentar yang sejak sehari sebelumnya saya sudah sangka akan datang.
Gila memang. Atau tidak gila. Hanya perasaan saya saja. Yang pasti tadi ketika saya baru memasuki ruangan kantor, sang bos sudah memanggil. Lalu kemudian masuk lah saya ke ruangan bos besar. Apa yang saya sangka akan terjadi, benar terjadi.
Mungkin ada baiknya bila saya menceritakan kejadian semalam sebelum acara gegap gempita di pagi hari datang. Malam sebelumnya, saya dan seorang rekan, kerja lembur hingga malam menuju pagi. Di malam itu saya sendiri mengaku kehilangan arah kepada rekan saya itu. Setelah dia mendengar pengakuan saya, dia hentikan sejenak pekerjaannya untuk mengganti status di situs pertemanan.
Dari situ saya sudah sulit sekali untuk berpikir. Kalau boleh saya mencari alasan layaknya judul lagu band Malaysia “Mencari Alasan”, maka alasan yang saya utarakan adalah pikiran saya sudah tersita semenjak datang sebuah pekerjaan yang tiba-tiba. Karena itu pulalah pekerjaan yang mestinya bisa saya diskusikan dulu dengan bos saya jadi tidak dapat terlaksana.
Saya, di malam itu, hanya bisa diam dan memikirkan sedikit demi sedikit kata. Keluar sih keluar itu kata-kata, tapi ya saya sendiri merasa kurang yakin dengan kata-kata yang saya lontarkan. Saya pun sudah pasrah, akan apa yang dapat terjadi besok.
Nah di keesokan harinya ini, seperti yang saya tadi tuliskan. Kritikan yang sudah saya kira benar terlempar ke muka saya. Malah bukan ke muka saya saja, juga ke muka bos saya. Malu beribu malu. Perasaan itu pun lalu campur aduk dengan perasaan rendah diri dan tidak percaya terhadap diri sendiri.
“Gila! Mo jadi apa nih gua? Kaya gini aja kok susah?”
Wah pokoknya itu yang namanya jantung bergetar seperti seseorang yang sedang lari marathon 18 KM. Sadis ya? Tapi tidak apa-apa. Itulah hidup.
Kadang saya suka tidak bisa terima dengan hal itu. Kadang pula saya sangat bersyukur saya mendapatkan hal-hal semacam itu. Karena dengan begitu saya bisa belajar. Diingatkan secara keras agar itu kejadian menempel di kepala.
“Wah lo jangan melarikan diri dari kenyataan gitu dong! Kalo lo lari kaya gitu, kapan lo bisa belajarnya. Anggep aja ini kaya pembelajaran.” Ucap seorang kawan kepada rekan kerja saya yang lain.
Ucapan dia itu memang benar adanya. Tidak semua orang bisa mengajari orang dengan sabar. Bukan sabar juga kali ya. Hmmm…pokoknya tidak semua orang bisa dengan santai, sabar, mengayomi, santun dalam memberikan pelajaran. Ya seperti guru-guru di sekolah saja. Ada yang galak, ada yang penyabar, ada yang tidak bisa mengajar, ada cuek banget, dan segala macemnya.
Teknik pengajaran yang lumayan membuat hati atau jantung berdebar-debar, malah sudah saya temui semenjak saya duduk di bangku Sekolah Dasar. Pada saat itu ada beberapa guru yang saya nilai cukup galak. Kegalakan guru itu juga masih wajar, menurut saya. Pasalnya, itu guru jadi marah karena ada hal yang membuat marah.
“Jeduk!” kalau tidak salah kepala teman saya dijedotin ke tembok. Setelah ditarik jambang kanannya teman saya. Kenapa dia mendapat perlakuan seperti itu? Mungkin ada yang bisa menebak? Silahkan saja…
Saya coba kasih petunjuk. Saya dan teman saya sedang duduk di bangku SD. Kejadian itu terjadi di dalam kelas. Terus selang beberapa lama kemudian teman saya itu dibawa ke ruang kepala sekolah.
“Klepak!” bunyi tamparan, sebagai bentuk hadiah dari Kepala Sekolah.
Sudah ada yang bisa menebak? Mungkin tidak, karena saya sendiri tidak memberitahukan petunjuk yang jelas.
Langsung saja. Teman saya itu membawa majalah asoy, Penthouse, ke sekolah. Mungkin pada awalnya dia ingin memamerkan barang syur, yang saya tidak sempat lihat waktu itu, ke teman-teman saya. Tapi karena dia terlalu antusias, guru pun menjadi objek yang dia harus pamerkan. Ya sudah, akhirnya diberikan pelajaranlah kawan saya itu.
Intinya sih pengajaran yang baik itu bisa dilakukan dengan banyak cara kali ya. Bisa keras, bisa juga lembut. Sekarang mana yang jadi pilihan saya?
Thursday, April 1, 2010
Monday, March 29, 2010
Was-Wes-Wos Kanan-Kiri Ujian!
Saya adalah satu dari seribu milyar orang di dunia ini, yang pernah atau sering menjalani ujian dalam kehidupan. Baik itu ujian tertulis untuk sekolah atau ujian tidak tertulis untuk kehidupan sehari-hari. Capek rasanya bila sedang menjalani masa-masa ujian itu dan saya yakin semua orang juga berpendapat yang sama dan merasakan hal yang sama.
Beberapa waktu yang lalu saya sempat mendengar gonjang-ganjing tentang permasalahan ujian. Untuk kali ini ujian yang dimaksud adalah ujian nasional! Jika saya masih duduk di bangku sekolah sudah pasti kata ujian nasional itu adalah kata yang amat sangat membuat saya takut setengah mati. Mungkin jika mau dicari persamaannya dalam kehidupan saya sekarang ini, kata itu akan semenakutkan kata, “Idenya jelek!!!”
Memang benar begitu adanya. Dulu waktu saya masih sekolah, mau itu Sekolah Dasar atau Sekolah Menengah Pertama, jika sudah datang waktu untuk EHB dan sejenisnya, wuih bukan main dakdikduknya hatiku ini. Segala macam harus dipersiapkan demi mendapatkan hasil atau nilai yang baik. Belajar tanpa kenal lelah! Belajar… ada kali ½ jam… selebihnya tidur pulas sampai pagi.
Keesokan harinya pasti semua yang dipelajari semalam, hilang tak berbekas. Alhasil saya hanya bisa melongok, menatap ke segala arah—kebanyakan sih ke arah atas seakan-akan saya sedang berpikir padahal tidak!
Itu pada saat saya SD atau SMP. Lain halnya ketika saya duduk di bangku SMA. Kalau waktu saya SMA sih, ujian tidak begitu menakutkan. Pasalnya setiap kali mau ujian, dari kelas satu sampai kelas tiga, pasti saja secara tiba-tiba datang suatu pencerahan.
Kertas-kertas kecil seukuran telapak tangan atau mungkin lebih kecil lagi, berseliweran dari satu tangan ke tangan yang lain. Kertas kecil itu berisi huruf-huruf A, B, C, D ,E. Isinya tidak lain dan tidak bukan adalah jawaban soal ujian—itu lho ujian catur wulan, lupa saya namanya apaan.
Nah semenjak itu, saya sih santai-santai saja kalau sudah mau menjelang pekan ujian. Saya yakin lembaran-lembaran itu akan datang ke tangan saya. Jadi saya tidak perlu belajar lagi, cukup mencontek apa yang ada di tangan saya itu. Hasilnya, ya gak tahu juga saya, karena tidak ada satupun hasil dari ujian yang pernah dibagikan. Tapi yang pasti syukur Alhamdulillah saya selalu berhasil naik kelas, walaupun dengan nilai yaa secukupnya ajalah.
Entah kenapa pencerahan semasa SMA itu semakin meningkat saja. Lama-kelamaan saya dan teman-teman tidak lagi mendapatkan kertas-kertas berisikan lima huruf istimewa, karena kami semua tidak lagi membutuhkan itu. Karena kami pada saat itu, langsung mendapatkan kertas soal dalam bentuk fotocopy! Dan itu datangnya sehari sebelum pelaksanaan ujian.
Malam sebelum pelaksanaan ujian, kami pun belajar dengan giat. Mencocokkan soal dengan jawaban langsung dari buku. Kami mengingat-ingat apa soalnya dan apa jawabannya. Jadi seumpama soal dibolak-balik, diacak-acak urutannya ya tidak masalah tidak seperti sebelumnya.
“Eh ini ada bocoran nih! Lo catet dah, tapi liat-liat dulu. Lo cocokin bener apa engga itu jawaban.” Ucap seorang kawan
“Tenkyu-tenkyu, bentar gua catet dulu jawabannya.” Tanggap yang lainnya.
Tidak ada lagi tuh adegan seperti itu, karena kami memiliki kertas soal yang lengkap dengan kop surat departemen terkait di atasnya. Kalau pada awal-awal kami mesti memastikan dengan cara mengurutkan jawaban dengan soal—apabila sesuai maka lanjut saja kalau tidak mending distop!—nah kalau sudah ada soalnya sih santaaiii…
Saya rasa yang kedua ini lebih baik dari yang pertama. Karena dengan begitu kita atau saya bisa belajar terlebih dahulu. Kalau yang pertama mah, boro-boro belajar! Nyentuh buku aja ogah! Tinggal liat aja ke kertas kecil di tangan, di hapusan, di pulpen atau di mana ada tempat untuk menyelipkan kertas di situ bakal ada kertas bocoran.
Tiba-tiba saja melintas di kepala saya, waktu ketika saya ulangan biologi. Pada saat itu, biologi adalah salah satu dari semua pelajaran IPA yang sulit saya mengerti. Walaupun itu hafalan, tapi tetap saja saya sulit menerimanya. Ya biosforalah, ya monokotillah, ya testoteronlah, dan segala macamnyalah. Karena hal itu pulalah akhirnya saya membuat suatu contekan.
Strateginya seperti ini, bahan-bahan yang kira bakal keluar di ulangan itu, saya catat di buku fisika. Nah pas pada hari H, itu buku fisika saya letakkan di bawah meja. Pada hari H, guru yang matanya tidak pernah berhenti berotasi itu, secara sengaja melihat saya yang sedang menunduk dan melihat ke bawah meja. Dia pun datang menghampiri saya.
“Kamu ngapain? Ayo keluarin bukunya!” Perintah sang guru.
“Ini bu…” Jawab saya sambil mengeluarkan buku fisika saya.
Mungkin si guru siteng juga kali ya, karena ia mendapatkan saya melihat buku fisika bukan buku biologi.
“Ngapain sih kamu??”
“Ini bu, pulpen saya bocor. Saya mo coret-coret di buku ini…”
Dan saya berhasil mengelabui dia. Terus bagaimana dengan hasil ulangan saya? Sepertinya sih sama saja. Gak bagus juga.
Kembali lagi ke masalah ujian. Nah pada saat Ebtanas inilah, kami semua tidak mendapatkan pencerahan kembali. Awalnya sih, katanya ada beberapa orang anak yang berhasil mendapatkan bocoran. Tapi setelah lama ditunggu ternyata mereka semua tertipu. Bukan hanya tertipu soal tapi juga tertipu uang. Kalo enggak salah sih lima juta ilang! Mereka mengeluarkan uang banyak hanya untuk kertas soal ujian tahun lalu.
Mungkin karena hal-hal seperti itulah, saya dan ia selalu menganggap bahwa mimpi yang ceritanya tentang waktu sekolah, apalagi pas ujian adalah salah satu mimpi buruk! Saya sungguh gak mau mengalami masa-masa itu, gak ada enak-enaknya! Padahal ujian yang saya hadapi sekarang itu lebih berat. Belum ditambah dengan bumbu racikan yang membuat ujian itu terasa lebih gurih. Maunya teriak, cuman nanti dibilang cupu! Kalau dipendam malah jadi runyam bikin ketombe di kepala jadi muncul! Weleh-weleh!
Kalau sudah gini, saya berpikir jadi selama ini saya disekolahkan agar saya siap menghadapi ujian di atas kertas, bukan ujian sesungguhnya. Menghadapi ujian yang kemungkinan besar ada bocorannya. Seandainya ujian-ujian kehidupan itu ada bocorannya, saya pasti jadi bisa lihai menghadapi was-was-wos kanan-kirinya.
Beberapa waktu yang lalu saya sempat mendengar gonjang-ganjing tentang permasalahan ujian. Untuk kali ini ujian yang dimaksud adalah ujian nasional! Jika saya masih duduk di bangku sekolah sudah pasti kata ujian nasional itu adalah kata yang amat sangat membuat saya takut setengah mati. Mungkin jika mau dicari persamaannya dalam kehidupan saya sekarang ini, kata itu akan semenakutkan kata, “Idenya jelek!!!”
Memang benar begitu adanya. Dulu waktu saya masih sekolah, mau itu Sekolah Dasar atau Sekolah Menengah Pertama, jika sudah datang waktu untuk EHB dan sejenisnya, wuih bukan main dakdikduknya hatiku ini. Segala macam harus dipersiapkan demi mendapatkan hasil atau nilai yang baik. Belajar tanpa kenal lelah! Belajar… ada kali ½ jam… selebihnya tidur pulas sampai pagi.
Keesokan harinya pasti semua yang dipelajari semalam, hilang tak berbekas. Alhasil saya hanya bisa melongok, menatap ke segala arah—kebanyakan sih ke arah atas seakan-akan saya sedang berpikir padahal tidak!
Itu pada saat saya SD atau SMP. Lain halnya ketika saya duduk di bangku SMA. Kalau waktu saya SMA sih, ujian tidak begitu menakutkan. Pasalnya setiap kali mau ujian, dari kelas satu sampai kelas tiga, pasti saja secara tiba-tiba datang suatu pencerahan.
Kertas-kertas kecil seukuran telapak tangan atau mungkin lebih kecil lagi, berseliweran dari satu tangan ke tangan yang lain. Kertas kecil itu berisi huruf-huruf A, B, C, D ,E. Isinya tidak lain dan tidak bukan adalah jawaban soal ujian—itu lho ujian catur wulan, lupa saya namanya apaan.
Nah semenjak itu, saya sih santai-santai saja kalau sudah mau menjelang pekan ujian. Saya yakin lembaran-lembaran itu akan datang ke tangan saya. Jadi saya tidak perlu belajar lagi, cukup mencontek apa yang ada di tangan saya itu. Hasilnya, ya gak tahu juga saya, karena tidak ada satupun hasil dari ujian yang pernah dibagikan. Tapi yang pasti syukur Alhamdulillah saya selalu berhasil naik kelas, walaupun dengan nilai yaa secukupnya ajalah.
Entah kenapa pencerahan semasa SMA itu semakin meningkat saja. Lama-kelamaan saya dan teman-teman tidak lagi mendapatkan kertas-kertas berisikan lima huruf istimewa, karena kami semua tidak lagi membutuhkan itu. Karena kami pada saat itu, langsung mendapatkan kertas soal dalam bentuk fotocopy! Dan itu datangnya sehari sebelum pelaksanaan ujian.
Malam sebelum pelaksanaan ujian, kami pun belajar dengan giat. Mencocokkan soal dengan jawaban langsung dari buku. Kami mengingat-ingat apa soalnya dan apa jawabannya. Jadi seumpama soal dibolak-balik, diacak-acak urutannya ya tidak masalah tidak seperti sebelumnya.
“Eh ini ada bocoran nih! Lo catet dah, tapi liat-liat dulu. Lo cocokin bener apa engga itu jawaban.” Ucap seorang kawan
“Tenkyu-tenkyu, bentar gua catet dulu jawabannya.” Tanggap yang lainnya.
Tidak ada lagi tuh adegan seperti itu, karena kami memiliki kertas soal yang lengkap dengan kop surat departemen terkait di atasnya. Kalau pada awal-awal kami mesti memastikan dengan cara mengurutkan jawaban dengan soal—apabila sesuai maka lanjut saja kalau tidak mending distop!—nah kalau sudah ada soalnya sih santaaiii…
Saya rasa yang kedua ini lebih baik dari yang pertama. Karena dengan begitu kita atau saya bisa belajar terlebih dahulu. Kalau yang pertama mah, boro-boro belajar! Nyentuh buku aja ogah! Tinggal liat aja ke kertas kecil di tangan, di hapusan, di pulpen atau di mana ada tempat untuk menyelipkan kertas di situ bakal ada kertas bocoran.
Tiba-tiba saja melintas di kepala saya, waktu ketika saya ulangan biologi. Pada saat itu, biologi adalah salah satu dari semua pelajaran IPA yang sulit saya mengerti. Walaupun itu hafalan, tapi tetap saja saya sulit menerimanya. Ya biosforalah, ya monokotillah, ya testoteronlah, dan segala macamnyalah. Karena hal itu pulalah akhirnya saya membuat suatu contekan.
Strateginya seperti ini, bahan-bahan yang kira bakal keluar di ulangan itu, saya catat di buku fisika. Nah pas pada hari H, itu buku fisika saya letakkan di bawah meja. Pada hari H, guru yang matanya tidak pernah berhenti berotasi itu, secara sengaja melihat saya yang sedang menunduk dan melihat ke bawah meja. Dia pun datang menghampiri saya.
“Kamu ngapain? Ayo keluarin bukunya!” Perintah sang guru.
“Ini bu…” Jawab saya sambil mengeluarkan buku fisika saya.
Mungkin si guru siteng juga kali ya, karena ia mendapatkan saya melihat buku fisika bukan buku biologi.
“Ngapain sih kamu??”
“Ini bu, pulpen saya bocor. Saya mo coret-coret di buku ini…”
Dan saya berhasil mengelabui dia. Terus bagaimana dengan hasil ulangan saya? Sepertinya sih sama saja. Gak bagus juga.
Kembali lagi ke masalah ujian. Nah pada saat Ebtanas inilah, kami semua tidak mendapatkan pencerahan kembali. Awalnya sih, katanya ada beberapa orang anak yang berhasil mendapatkan bocoran. Tapi setelah lama ditunggu ternyata mereka semua tertipu. Bukan hanya tertipu soal tapi juga tertipu uang. Kalo enggak salah sih lima juta ilang! Mereka mengeluarkan uang banyak hanya untuk kertas soal ujian tahun lalu.
Mungkin karena hal-hal seperti itulah, saya dan ia selalu menganggap bahwa mimpi yang ceritanya tentang waktu sekolah, apalagi pas ujian adalah salah satu mimpi buruk! Saya sungguh gak mau mengalami masa-masa itu, gak ada enak-enaknya! Padahal ujian yang saya hadapi sekarang itu lebih berat. Belum ditambah dengan bumbu racikan yang membuat ujian itu terasa lebih gurih. Maunya teriak, cuman nanti dibilang cupu! Kalau dipendam malah jadi runyam bikin ketombe di kepala jadi muncul! Weleh-weleh!
Kalau sudah gini, saya berpikir jadi selama ini saya disekolahkan agar saya siap menghadapi ujian di atas kertas, bukan ujian sesungguhnya. Menghadapi ujian yang kemungkinan besar ada bocorannya. Seandainya ujian-ujian kehidupan itu ada bocorannya, saya pasti jadi bisa lihai menghadapi was-was-wos kanan-kirinya.
Subscribe to:
Comments (Atom)